 |
| Logo #VIA26, created by Soo Hyun Kang (Korea) |
Jam menunjukan pukul 01.00 wib, ketika Andy (Andrew Caffrey) dan Emma (Emma Pass) sebagai coach menyudahi virtual meeting pekanan terakhir, pekan ke-6 #VIA26 Innovator Program. Setelah ini, selama 12 bulan ke depan, kami harus menerapkan inovasi yang telah dirancang di komunitas masing-masing dan mempersiapkan laporannya untuk dipresentasikan di hadapan para inovator lainnya. Di mulai Rabu dini hari ini (06/05), maka secara resmi kami menjadi Google Certified Innovator (GCI) lulusan VIA26 (Virtual Innovator Academy 2026).
Mendapatkan badge Inovator tentu bukan tujuan akhir, dan sebenarnya malah menjadi 'beban' hidup. Sebab, mau tidak mau, harus dapat mempertanggungjawabkan amanah itu, yaitu berdampak pada lingkungan khususnya turut memecahkan masalah atau lebih tepatnya tantangan (challenge) dalam perspektif transformasi digital pendidikan.
Setelah lulus seleksi administratif dan esai, setidaknya ada 89 orang calon inovator yang lulus dari seluruh penjuru dunia dan dibuatkan grup Google Chat khusus. Untuk dapat terjaring sebagai inovator, seseorang harus memenuhi kriteria awal, yaitu sebagai seorang Google Champion (Google Certified Trainer, Coach, GEG Leader). Berikutnya, champion itu harus memiliki sertifikat Google Certified Educator (GCE) L1 dan L2 serta Gemini Certified Educator yang masih aktif. Kalau sudah kadaluwarsa, berarti harus memperbarui dulu sertifikasinya. Barulah kemudian, seleksi esai dan video yang berisi tentang tantangan dunia pendidikan yang hendak dipecahkan.
VIA26 sendiri adalah akademi virtual pertama yang 'infused with Gemini'. Karena itu proses seleksinya memprioritaskan tantangan yang melibatkan AI sebagai salah satu tool inovasi. Ada satu kalimat yang sering disampaikan oleh coach Emma sepanjang pertemuan, yaitu "love the problem/challenge not the solution". Karena itu, sejak masih dalam tahapan penetapan tantangan, sudah ada potensi atau unsur pelibatan AI di dalamnya, terlebih saat tantangan itu mulai dibuatkan desain solusinya.
Week 1 - Design Thinking
Materi perdana setelah penyambutan dan perkenalan diri adalah tentang Design Thinking. Desain tidak identik sama dengan artistik. Bila desain adalah suatu proses kreatif, dan kreativitas adalah tentang ide. Sedangkan empati adalah jantung dari semua ide-ide besar. Maka Design Thinking pada dasarnya adalah sebuah proses dan mindset dari pemecahan masalah yang kreatif. Proses ini membutuhkan cara berpikir yang divergen sekaligus konvergen, alias tidak mono cara.
 |
| Definisi Design Thinking |
Materi ini disimulasikan. Peserta diminta membuat suatu desain tas sekolah dan harus bisa divisualisasikan baik dengan gambar tangan maupun dengan
Generative AI (seperti Gemini Nano Banana). Prosesnya sama, mengidentifikasi lebih dulu tantangan atau kebutuhan dari tas sekolah yang dibawa murid, baru kemudian mendesain tas itu berdasarkan analisis kebutuhannya. Sehingga, meskipun sama-sama tas sekolah, tidak ada satupun desain tas hasil buatan peserta yang sama persis, semuanya berbeda.
Tas desain saya simpel, terlihat biasa sekali. Sebab, dasar problemnya adalah warnanya unik supaya gampang terlihat kalau berada di tas-tas lain, kedap air kalau hujan (karena Indonesia sering hujan), banyak kantongnya supaya bisa bawa tumblr, ukurannya tidak terlalu besar supaya tidak berat bagi anak. Maka, desainnya seperti ini:
 |
| Mendesain sebuah tas sekolah untuk anak SD |
Tapi, ada juga desain tas yang unik, dengan sasaran anak yang lebih besar usianya, dengan kebutuhan yang lebih kompleks, seperti Smart Backpack for Special Needs Students berikut ini.
 |
| Desain tas yang ada GPS dan AI Voice Assistant-nya |
Dan berikut ini adalah desain tas milik Jeremia Hasiholan, partner saya saat sesi breakout room yang berbasis tas kulit.
 |
| Desain tas berbahan kulit milik Jeremia |
 |
| Meeting pekan ke-1 #VIA26 |
Week 2 - Using Gemini Gems as Thought Partner and HMW
Di Selasa pekan ke-2, di jam yang sama, 23.00-01.00 wib, Andy mengenalkan kepada kami cara memanfaatkan AI khususnya Gem yang ada di Gemini. Setidaknya ada 6 Gem yang digunakan di sesi ini. Nantinya, hingga pekan ke-6 total ada 17 Gem yang digunakan sebagai teman berpikir (Thought Partner) untuk mendesain inovasi. Selain Gemini, dikenalkan juga 3 tools AI lainnya yaitu: Notebook LM, Google AI Studio, dan Workspace Studio.
Sementara Emma menyampaikan materi Define Your Challlenge. Dengan bantuan gem tadi, peserta diminta untuk mendefinisikan apa sesungguhnya tantangan yang hendak dipecahkan. Di kesempatan ini, Emma juga mengenalkan cara menggunakan Desain Thinking Framework berupa pertanyaan How Might We? (HMW). Dalam versi bahasa Indonesianya, kira-kira berarti "Bagaimana mungkin kita..." atau lebih tepatnya adalah "Bagaimana kita bisa...".
Setiap peserta menyusun 4 pertanyaan HMW. Emma membuat sebuah dokumen di Google Docs, dan peserta mengisi tabel yang telah disediakan di dokumen itu. Sehingga, setiap peserta dapat saling mempelajari HMW dari peserta lain. Berikut ini HMW saya, yang berisi tentang bagaimana cara kita membantu siswa menemukan talentanya dan berproses dengan minat-bakatnya itu.
 |
How Might We (HMW) question untuk menggali tantangan.
|
Dan berikut ini adalah HMW dari rekan lain yang mirip dengan HMW saya, masih terkait dengan minat bakat, talenta, dan
passion. Saat
breakout room (BOR), peserta saling bergantian menjelaskan 4 HMW-nya. di Sesi
BOR ini, partner saya adalah Toni Jaluague dari Filipina.
 |
| HMW tentang talenta siswa. |
 |
| Meeting pekan ke-2 #VIA26 |
Week 3 - Ideation and AI with Workspace Flows
 |
| Meeting pekan ke-3 #VIA26 |
Di pekan ke-3, Emma tampil lebih dominan. Tema besar yang dibawakannya adalah
Ideation. Ia mengenalkan apa yang disebut dengan
The Rules of Crazy 8's. Aturan mainnya adalah menuliskan 8 ide pokok yang dirasa dapat menyelesaikan masalah/tantangan. Syaratnya, setiap ide dituliskan dalam kurun waktu maksimal 40 detik, tidak boleh lebih atau terlalu lama. Harapannya adalah, yang muncul adalah ide yang genuine. Intinya, apa yang terbersit, tulis saja. itulah idenya. Dan, satu hal lagi, ide yang sudah ditulis tidak boleh dihapus. Wah, menarik juga, ya!.
 |
| The rules of Crazy 8's |
Setelah sesi diskusi dalam BOR, giliran Andy yang mengambil alih. Ia memberi materi pendalaman AI. Kali ini yang ia jelaskan adalah tool AI yang bernama Flows. Flows sangat efektif untuk membangun otomasi dan pengumpulan data. Flows dapat mengalirkan beberapa tool Google menjadi satu kesatuan proses. Misalnya, melibatkan Gmail, Calendar, dan Gemini dalam suatu proses otomasi. Untuk memudahkan, Flows menyediakan contoh templat yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Misalnya, setelan otomatis apa yang harus dilakukan ketika menerima email dari seseoarang. Sepertinya, Flows cukup menjanjikan sebagai AI yang bersifat sebagai mekanisme otomatis asisten digital.
Di pekan ke-3 ini, tantangan dalam bentuk pertanyaan HMW setiap peserta difinalisasi. Strukturnya, harus berupa 1 kalimat, dengan menyasar user/segmen yang jelas. Pertanyaan tersebut juga tidak boleh terlalu luas ataupun terlalu teknis/sempit. Untuk memfinalkannya, peserta dibantu dengan Gem yang telah disiapkan oleh Andy dan Emma. Kemudian, seluruh tantangan HMW yang terkumpul dikompilasi dalam suatu spreadsheet, dimana peserta dapat mempelajari HMW satu sama lain.
Week 4 - Mapping with Storyboard and Vibes Coding with Gemini Canvas
Kali ini, Andy mengenalkan Gemini Canvas yang memiliki keunggulan Vibes Coding. Andy memeragakan beberapa aplikasi sederhana yang dapat dibuat oleh Canvas. Disebut vibes coding, karena vibesnya memang seolah-olah kita mastering koding, padahal Canvas yang menyelesaikannya untuk kita. Kuncinya terletak pada prompt yang baik. Tapi menurutku, akan lebih baik jika kita menguasai bahasa koding dasar, khususnya HTML atau Phyton agar dapat memahami struktur dan melakukan perbaikan manual. Jadi, Andy mengenalkan semua tools AI Google, karena bisa jadi salah satunya yang akan digunakan peserta sebagai basis inovasinya, termasuk Canvas Gemini ini.
 |
| Meeting pekan ke-4 #VIA26 |
Emma kemudian membimbing peserta untuk melakukan Mapping ide dengan membuat sebuah Storyboard, tidak dalam bentuk teks tapi dalam bentuk visual, dengan bantuan Gem yang melibatkan Nano Banana. Hingga pekan ke-4 ini, sudah 12 Gem yang dilibatkan untuk mengelaborasi ide-ide peserta. Emma memberi contoh storyboard-nya yang berisi tentang alur bagaimana ia memecahkan masalah terkait dengan HMW, "How migh we increase writing fluency by decreasing spell check reliance?". Berikut ini storyboard milik Emma.
.png) |
| Contoh sebuah storyboard visual |
Dan berikut ini adalah storyboard saya.
 |
| Storyboard tentang penguatan talenta siswa |
Semua storyboard yang dibuat peserta ditata sedemkian rupa dalam Google Slide. Kemudian, peserta wajib memberi komentar, apresiasi, ataupun pertanyaan pada storyboard peserta lain. Berikut beberapa komentar dari peserta lain terhadap storyboard saya.
 |
| Komentar dari peserta lain terhadap storyboard yang saya buat |
Week 5 - Making the PrototypePertemuan pekan ke-5 ini tidak saya lakukan di rumah, tapi di homestay Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Momentnya bersamaan dengan acara Backpacker Malang-Surabaya siswa SMM. Jadi, ketika anak-anak sudah terlelap, saya masih begadang untuk mengikuti meeting.
 |
| Meeting pekan ke-5 #VIA26 |
 |
| Welcome to Week 5 #VIA26 |
Jadi, setelah memiliki pernyataan tantangan dalam bentuk pertanyaan HMW dan membuat alur penyelesaiannya dalam bentuk storyboard, maka langkah besar berikutnya adalah membuat Prototype atau dalam bahasa Indonesianya disebut sebagai prototipe atau purwarupa, sebelum nanti disempurnakan menjadi suatu produk/aksi final.
 |
| Coach Emma sedang presentasi |
Jadi, apa sesungguhnya prototipe atau purwarupa itu? Emma menayangkan salindia berikut ini, berikut contoh-contohnya.
 |
| Definisi prototipe/purwarupa |
.png) |
| Contoh prototipe karya tiga dimensi |
.png) |
| Contoh prototipe sebuah aplikasi |
Wah, ternyata ini langkah yang benar sebelum membuat suatu produk inovasi, yaitu membuat prototipe terlebih dahulu. Seringnya, kita, eh bukan ding, saya, langsung membuat saja. Setelah eror baru diperbaiki. Ternyata, ada tahapan bernama prototipe yang perlu kita bangun. Gunanya, dua hal utama: menguji asumsi dan menjawab pertanyaan.
Peserta diminta untuk membuat prototipe inovasinya masing-masing. Beberapa Gem telah disiapkan. di pekan ke-5 ini ada 3 Gem yang disiapkan, yaitu Gem 13-15. Sehingga total sudah ada 15 Gem yang digunakan hingga fase prototipe ini.
Semua protitipe peserta dikumpulkan dalam sebuah deck Google Slide, baik berupa foto maupun video. Saat melihat karya prototipe rekan-rekan peserta yang lain, saya takjub. Wow,
amazing! Berikut ini, prototipe karya saya dalam bentuk visual gambar dan link lamannya. Di sini, saya menggunakan Google AI Studio.
Klik di sini untuk melihatnya.
.png) |
| Visual rencana prototipe karya inovasi saya, Talent Scout App |
Berikut contoh prototipe karya peserta #VIA26.
.png) |
| Prototipe karya Madeeha Israr |
.png) |
| Prototipe karya Juwairia |
.png) |
| Prototipe karya Toni Jaluage |
.png) |
| Prototipe karya Lilian A. Mathurin |
.png) |
| Prototipe karya Almas Qureshi |
Week 6 (Last) - User Testing or Volunteers Presenting
Sebagai pertemuan pamungkas, sesi terakhir ini terasa begitu kritis bagi peserta. Di kesempatan ini Andy dan Emma memberi ruang bagi peserta untuk menjadi relawan (volunteer) yang bersedia mempresentasikan karya prototipenya. Di grup chat ada sekitar 25 orang yang mengisi list kesediaan. Namun karena waktunya terbatas, diambil 14 orang pertama dalam list yang akan tampil.
Sebagian besar presentasi dilakukan dalam bahasa Inggris, meskipun ada juga yang dalam bahasa lain, seperti Jepang. Di Google Meet, sudah ada fasilitas penerjemah. Jadi, ketika ada bahasa asing, kita bisa menyalakan fitur itu menjadi bahasa yang dapat kita mengerti. Secara umum, tampilan beberapa peserta saat mempresentasikan karyanya memberikan semangat dan inspirasi untuk mengembangkan inovasinya masing-masing.
 |
| Reshma Razack sedang mempresentasikan karyanya, DuckDebug Coach |
Sebelum tampil di ruang utama (main room). Peserta beberapa kali melakukan presentasi kecil di grup BOR. Saya bertemu dengan peserta dari Italia (Prof. Breccia), India (Radha Sivakumar), dan Oman. Tujuannya, untuk memberi umpan balik saat User Testing.
 |
| BOR bersama ibu Radha Sivakumar dari India |
Di akhir sesi, Andy dan Emma menyampaikan tentang waktu selama 12 bulan atau 1 tahun ke depan bagi para Inovator untuk menyelesaikan, mempraktikkan, dan mengembangkan karya inovasinya. Ada pertemuan di tengah tahun untuk pemantauan dan ada pertemuan akhir tahun untuk mempresentasikan apa yang telah dilakukan di hadapan rekan-rekan VIA26. Secara officially, peserta VIA26 setelah meeting terakhir ini telah menjadi seorang Google Certified Innovator (GCI).
 |
| Meeting pekan ke-6 #VIA26 |
Epilog
Sebagai penyemangat kepada para Inovator, saya teringat apa yang disampaikan Emma, bahwa : "You’re an expert at what you do, with a valid challenge to solve…" .
Namun, perlu diingat, bahwa ide bagus harus dieksekusi agar tak menguap menjadi mimpi. Seperti kata Thomas Alpha Edison,
"Vision without execution is hallucination."
b.png) |
| Para Certified Innovator dalam #VIA26 |
Terima kasih untuk Andy dan Emma untuk fasilitasinya yang luar biasa dan juga untuk Swag-nya. Telah mendarat dengan selamat di rumah pada pekan kelima kemarin.
 |
Certified Innovator Program Swag, dikirim dari UK
|
Comments
Post a Comment