 |
| Uji Coba BRT Listrik di Jalur Koridor V Meteseh-PRPP |
Sekolah Alam sangat mendukung Green Life Style, sebagai bagian usaha dari menjaga bumi tetap lestari. Salah satunya dengan naik alat transportasi umum sehingga mengurangi polusi bahan bakar fosil, terlebih angkutan tersebut menggunakan listrik. Sehingga nyaris Zero Fossil Fuel Pollution atau dalam bahasa akamsinya: cumi hitam.
Hari Selasa (07/04) kemarin, siswa SMM (Sekolah Muda Mandiri) Alam Ar Ridho City Tour Kota Semarang dengan mencoba BRT Listrik jalur Koridor V Meteseh-PRPP.
Sebelumnya, kami menginstal aplikasi Trans Semarang di gawai. Aplikasi ini menjadi penting agar kami dapat memantau bis listrik melalui fitur Bus Terdekat ataupun fitur Semua Bus. Di fitur Semua Bus (All Bus), seluruh rute koridor berikut seluruh bus yang sedang berjalan di Kota Semarang dapat terlihat.
 |
| Logo aplikasi Trans Semarang di Google Play |
Kita tinggal melakukan pencarian BRT di Koridor V. Setelah terlihat ikon bus kecil, kita dapat mengkliknya. Bila muncul keterangan E didepannya, maka dapat dipastikan itu adalah BRT Listrik. Tanpa E di depannya berarti itu adalah BRT reguler. Dalam hal ini, kami lihat ada EV 01 dan EV 02 berarti ada 2 BRT Listrik yang beroperasi di Koridor V. EV 01 adalah INVI 10,5 m atau bus besar, sedangkan EV 02 adalah VKTR atau bus kecil.
Kami memutuskan untuk naik EV 02, yang akan masuk ke halte Bunderan Thoyyibah BKJ sekitar pukul 10.30. Maka, dari SMM kami meluncur sekitar pukul 10.00. Dan jadwalnya tepat. Tak lama setelah tiba di halte BRT, bus EV 02 itu datang.
 |
| Interior BRT Listrik kecil (VKTR) |
Ternyata, hari itu hari terakhir masa uji coba BRT Listrik yang kecil, sehingga tarifnya masih nol rupiah alias gratis. Untuk yang BRT listrik besar, menurut info dari supir, masih berlansung hingga 10 April 2026. Entah karena masih baru atau bagaimana, tapi AC di dalam bus terasa dingin. Interiornya bersih dengan kursi formasi 1 di kanan dan 2 di kiri. CCTV didalamnya ada 8 biji.
Oya, plat bus ini masih plat B. Yang paling berbeda dari bus ini selain AC yang dingin adalah suara mesinnya nyaris tidak terdengar atau bergetar. Batere bus ini di cas setelah jam kerja berakhir yaitu di malam hari di kantor Dishub Kota Semarang, membutuhkan waktu kurleb 3-4 jam hingga penuh kembali.
Kami mengikuti rute bus ini hingga tiba di halte PRPP, kurang lebih 2 jam lamanya. Di PRPP, kami sempat beristirahat sekitar 20 menit untuk menikmati bekal makan siang yang dibawa. Kemudian, kami berganti bus listrik EV 01 yang lebih besar, yang panjangnya 10.5 meter. Kali ini kami tidak langsung pulang ke Meteseh, tapi transit di Halte BRT Imam Bonjol.
 |
| Istirahat dulu sebentar di dalam PRPP |
 |
| Interior BRT EV 01 (besar) |
Di Halte BRT Imam Bonjol, kami berganti BRT reguler koridor IIIA, karena kami ingin menuju Kota Lama. Setelah sekitar 10-15 menit perjalanan melewati Stasiun Poncol dan daerah Layur, kami tiba di Halte Mpu Tantular di area Kota Lama. Di sini kami menunaikan ibadah salat Duhur di mushola kecil yang terbuat dari kayu di Jl. Sleko.
 |
| Mushola dari bahan kayu |
Setelah itu kami menyeberang ke arah Kota Lama dan berhenti di kedai Tansu (Ketan Susu) Tembalang cabang Kota Lama. Di sini ada kuliner menarik yaitu Ketan Susu beragam topping. Kami memesan beragam menu berbeda dengan topping yang sama yaitu Es Krim. harganya harga pelajar/mahasiswa, gaes.. dan rasanya maknyuss, segerr..
Usai menikmati Tansu, kami memutuskan untuk kembali ke SMM, karena tujuannya yang terpenting sudah sudah tercapai, yaitu mengetahui cara ke Kota Lama dengan naik BRT. Untuk pulangnya, setelah memantau aplikasi Trans Semarang, kami berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah Johar (belakang Kantor Pos Besar) melewati tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Di halte ini, kami akan naik BRT Reguler Koridor II jurusan Terboyo-Ungaran (Sisemut), Tapi kami hanya sebentar, karena akan turun di Halte Balaikota Pemuda yang jaraknya tidak sampai 10 menit perjalanan.
 |
| Tugu Nol Kilometer Kota Semarang |
Dari Halte Balaikota, kami berpindah ke BRT Koridor V untuk membawa kami kembali ke Meteseh, Seluruh rute yang kami tempuh ini (Meteseh, PRPP, Kota Lama, Balai Kota, Meteseh) hanya mengeluarkan biaya 1.000 rupiah untuk para siswa dan 3.500 (nontunai) atau 4.000 (tunai) untuk harga umum. Bahkan gratis jika pelajar/mahasiswa memiliki kartu e-card BRT.
Kira-kira pukul 16.30 wib, kami sudah berada kembali di SMM. Hari ini berarti kami naik 2 BRT Listrik dan 3 BRT Reguler. Skornya sementara 2-0 untuk BRT Listrik. Sebab, suasana atau vibes BRT Listrik jauh beda dengan yang reguler. Adem, bersih, dan nyaman, naik BRT Listrik. Semoga ibu walikota Semarang bisa membeli BRT Listrik dalam jumlah banyak untuk meremajakan BRT reguler yang sudah senior, yang saat ini rasanya penuh perjuangan, sumuk karena AC-nya sering ngadat, berisik, komponen yang sudah tua, dan mengeluarkan asap hitam (cumi hitam) bagi lingkungan. Jadi kebutuhan itu, tidak saja untuk manusianya tapi juga untuk udara Kota Semarang yang lebih bersih.
Salah satu siswa SMM, Dika kelas XI, juga berpendapat yang sama, menurutnya,"BRT listriknya bagus. AC-nya baik dan adem. EV 02 (bus kecil) supirnya ramah banget. Duduk di BRT lebih enak daripada berdiri dan pegangan tiang." Dika juga punya harapan pada Walikota Ibu Agustina Wilujeng, "Saya berharap ibu walikota juga bisa duduk atau berdiri di BRT, tapi rame banget, dan mengganti BRT dengan yang baru dan nyaman".
 |
| Ruang kokpit supir BRT EV 01 (besar) |
 |
| Panel dashboard BRT EV 02 (kecil), canggih lho.. |
Comments
Post a Comment