b.png) |
| Banner Hari Nelayan Nasional SMM |
Belum banyak yang tahu, jika hari ini, 6 April adalah Hari Nelayan Nasional. Hari Nelayan Nasional ditetapkan sebagai bentuk apresiasi atas jasa nelayan Indonesia dalam menyediakan pangan, menjaga kedaulatan laut, serta simbol syukur atas hasil laut. Peringatan ini diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2003 untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Hari Sabtu (04/04), anak-anak SMM (Sekolah Muda Mandiri) Sekolah Alam Ar Ridho punya gawe spesial untuk mengapresiasi Hari Nelayan ini. Aksi sehari di kampung nelayan ini diberi tajuk "Nelayan Day Experiences 2026". Kegiatannya dipusatkan di Kampung Nelayan Tambak Mulyo, Tanjung Mas, Semarang Utara.
Anak-anak berangkat dari SMM di Meteseh dengan Elf carteran pukul 08.00 WIB. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan ke arah Tanjung Mas, kami tiba di kampung Tambak Mulyo, yang masih bagian dari komunitas nelayan Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas. Jadi, sebenarnya, jaraknya tidak jauh-jauh amat sih. Karena masih dalam bagian Kota Semarang di bagian pantai utara.
 |
| Pose di SMM sebelum berangkat ke Kampung Nelayan |
Di Kampung Nelayan, kami diterima oleh dua orang relawan dari Komunitas Asa Edu, Mbak Ais dan Mbak Nuansa. Asa Edu adalah sebuah lembaga relawan yang mendampingi warga kampung nelayan di Tambak Mulyo. Basecampnya ada di PAUD Seroja. PAUD ini pada 2015 diresmikan oleh Walikota Semarang, Bp. Hendrar Prihadi. Kedua relawan tadi mahasiswa dan alumni UNDIP.
 |
| PAUD Seroja, diresmikan oleh Walikota Hendrar Prihadi pada 2015 |
Acara dimulai dengan Pembukaan dan perkenalan. Asa Edu mengajak 9 orang anak-anak sekitar dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Awalnya mereka terlihat malu-malu. tapi tak butuh waktu lama, mereka kemudian bisa berbaur akrab dengan kakak-kakak siswa SMM.
 |
| Bu Nisa mengenalkan siswa SMM |
 |
| Mbak Ais memandu acara pembukaan |
 |
| Siswa SMM mengikuti acara Pembukaan |
Pukul 10.00, rombongan bergeser ke pinggir laut untuk menanam Mangrove. Bibit mangrove disiapkan oleh seorang warga di sana, Bp. Nurrohman. Beliau yang merintis gerakan penghijauan di Tambak Mulyo, dibantu putranya Sulthan dan Reyhan. Di momentum ini, ada sekitar 70 bibit mangrove Rhizopra apiculata (Bakau Minyak) yang ditanam oleh siswa. Selain bakau, Pak Nurrohman juga menanam Cemara Laut, Ketapang Kencana, Kayu Putih, dan beberapa tanaman lain seperti Pucuk Merah. Tanaman yang terakhir ini berumur pendek. Sudah mati semua. Yang masih terlihat bagus adalah Cemara laut.
Bakau dipilih sebagai tanaman utama, karena selain akrab dengan air asin, tanaman ini juga mampu menahan gelombang laut, sehingga tingkat abrasinya bisa diturunkan. Bahkan pada waktunya nanti, akar-akar pohon Bakau bisa menjadi habitat baru bagi ekosistem pesisir. Sehingga kawasan ini bisa menjadi lestari.
Menurut Pak Nurrohman, ancaman penghijauan bakau saat ini bukan dari gelombang pasang, tapi dari para pemancing. Mengapa begitu? karena oknum pemancing suka menyandarkan galah pancingnya di dahan Bakau sehingga sering patah sebelum tumbuh menjadi kuat.
Berbeda dengan metoda penanaman Bakau yang pernah saya ikuti. Di sini, kami menanam Bakau dengan metode satu lubang untuk 2-3 benih bakau. Jadi, tidak satu-satu. Untuk lanjarannya, tetap memakai bambu. Lanjaran ini membantu sampai pengakaran Bakau mampu menahannya secara alami.
 |
| Pose bersama setelah tanam Mangrove (Bakau) |
Setelah ishoma, menunaikan ibadah duhur di Mushola Nurul Hikmah di depan PAUD, rombongan bergerak ke Pasar Tombok Lorok untuk mengetahui dan merasakan geliat ekonomi masyarakat, Anak-anak belajar menawar beberapa produk ikan, cumi, udang, dan kerang.
Di kelompok 3 yang saya dampingi, kebetulan ada seorang anak yang ayahnya seorang nelayan. kami bergegas ke sana sebelum hasil tangkapannya di bawa semua ke pasar. Kami hendak membeli cumi. Sayangnya, kami terlambat, hasil tangkapan ternyata sudah dibawa ke pasar. Karena itu, sebagai gantinya, kami bergeser ke tetangganya, ibu-ibu yang dikenal sebagai bakul cumi-cumi. Namanya Mbah Mik. Sehari omsetnya bisa mencapai 5 juta rupiah. Hasil itu diperoleh dari 100 kg cumi yang dihargai 50 ribu rupiah per kilogramnya. Bila sudah sampai pasar, harga cumi disana bisa dijual 55.000-60.000 rupiah. Di Mbah Mik, anak-anak membeli cumi-cumi setengah kilo saja, seharga 20.000 rupiah.
 |
| Mushola Nurul Hikmah, Tambak Mulyo |
Dari area sekitaran PAUD Seroja, kami berjalan kaki ke Pasar Tambak Lorok. Siang terik menyengat. Tapi semangat kami tetap menyala. Sinar matahari kami lawan. jarak tempuhnya lumayan sih. Ada 500 meteran. Di pasar ini kami berhenti di los terdepan. ada Bu Ida yang menawarkan dagangannya. Di sini kami membeli ikan gerabah ekor kuning, harga finalnya 14.000 rupiah. Awalnya 15.000, ditawar anak-anak 14.000. langsung dikasih. Ya iyalah, secara cuma selisih 1.000. Sisa uangnya, 16.000 dibelikan kerang hijau. Dapat 2 kilogram. Jadi, uang 50.000 dari guru yang diberikan kepada setiap kelompok, dibelikan cumi-cumi, ikan laut, dan kerang hijau.



Bu Ida ini bercerita, bila hari Sabtu-Minggu, ia bisa membawa pulang keuntungan hingga 1 juta rupiah. namun di hari Senin-Jumat hanya sekitar 600-700 ribu rupiah. Keuntungan itu ia peroleh dari berjualan sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 18.00 sore (magrib).
 |
| Suasana di dalam Pasar Tambak Lorok |
Dari pasar Tambak Lorok, kami lanjut jalan kaki ke rumah nelayan sekitar 500 meteran juga. Rencananya kami akan melakukan wawancara dengan beberapa bapak-bapak nelayan untuk dapat mengetahui lebih dalam seluk beluk suka dan duka menjadi nelayan. Mas Fauzi, sebagai koordinator Asa Edu, menghubungkan kami dengan Kelompok Nelayan Indah Jaya. Posisinya di gang masuk dekat gerbang Kampung Nelayan Tambak Mulyo.
Tim dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing mewawancarai seorang nelayan. Ada sekitar 30 menit kami berbincang dengan nelayan dari hal yang bikin gembira hingga hal yang bikin sedih. Ternyata, menjadi seorang nelayan itu luar biasa perjuangannya, gaes.
 |
| Diskusi Kelompok 2 dengan Pak Imam |
Kelompok 3, mewawancarai Pak Ridwan. Beliau menjadi nelayan sejak kelas 1 SD hingga sekarang berumur 55 tahun, atau sudah 48 tahun. Sungguh dedikasi yang luar biasa. Nelayan senior beliau ini. Di akhir wawancara, ketika ditanya apa harapannya kepada anak-anak muda, dengan polos pak Ridwan menjawab, saya tidak ingin anak saya menjadi nelayan. Waduh. Kenapa? karena menjadi nelayan itu rekasa (menderita) katanya. Cukup saya saja yang merasakan.
 |
| Anggota Kelompok 3 |
Pak Ridwan bercerita, ia berangkat ke laut sehabis subuh dan pulang saat Duhur. Setiap hari bila beruntung, bisa membawa pulang hasil tangkapan menggunakan alat barongan sekitar 1 juta rupiah. Setelah dikurangi BBM yang 500 ribuan (50 Liter), tersisa 500 ribu. Itupun masih dibagi 3, untuk pemilik kapal, dan 2 ABK. Sehingga masing-masing membawa pulang tidak sampai 200 ribu rupiah. Kadang tak jarang, hasil tangkapan kurang dari itu, terutama ketika musim barat (badai) tiba. Dan masih banyak hal lainnya yang beliau ceritakan secara blak-blakan.
Nelayan di Tambak Lorok ini termasuk nelayan tradisional. Mereka tidak memakai teknologi. Untuk navigasi arah pulang mereka menggunakan arah angin bertiup, bila melaut di siang hari. Bila melaut di malam hari, yang sudah jarang dilakukan, mereka menggunakan rasi bintang. Mereka sama sekali tidak menggunakan sistem GPS. Dengan ukuran perahu yang mereka miliki, mereka bisa melaut hingga kurang lebih 70 km jauhnya dari garis pantai.
Dulu, mereka pernah ditawari oleh Kementerian KKP kapal besar yang awak kapalnya bisa puluhan dan sekali melaut bisa 2 bulan lamanya. Tapi, tawaran itu terpaksa ditolak karena basik kenelayanan mereka tidak seperti itu. jadi, nelayan tambak Lorok ini hanya melaut di area utara laut Semarang saja, tidak pernah merambah jauh-jauh.
Setelah wawancara, Pak Suhartono, ketua kelompok nelayan, mempersilakan kami untuk naik ke kapalnya dan merasakan bagaimana vibes melaut itu. Kapal milik beliau ternyata bermesin tiga, tapi yang dihidupkan saat itu hanya 1 saja. Itu pun sudah lebih dari cukup. Kami menyusuri laut Tanjung Mas. Di sebelah kiri kami nampak cerobong merah putih milik Indonesian Power. Ketika mulai berada di muara, ombak menjadi lebih tinggi, kapal mulai terombang-ambing melawan ombak. Anak-anak berteriak seru campur takut. Air laut bahkan sampai masuk ke kapal dan membasahi badan anak-anak. Di belakang, Pak Suhartono dan Pak Ridwan senyum-senyum saja. Setelah jarak 2 kiloan dari posisi semula, kapal dibelokkan kembali pulang. Hehe..namanya juga cuma buat merasakan vibesnya melaut. Meskipun sesaat, ini sudah menjadi kenangan yang menurutku takkan terlupa sepanjang hayat.
 |
| Dermaga nelayan Tambak Lorok |
Pukul 15.00 wib, kami kembali ke PAUD, untuk menunaikan salat Ashar dan menyiapkan presentasi menggunakan kertas plano. Satu jam kemudian, setiap kelompok mempresentasikan apa saja yang dialaminya berikut refleksi nilai positif terhadap diri sendiri. Setiap anak dari total 18 anak wajib menyampaikan 1 hikmah yang dapat ia petik. Dari sekian banyak, ada yang saya ingat diantaranya adalah "Sepanjang kita mau berusaha, insyallah kita akan mendapatkan". Cakeeppp.
 |
| Presentasi Kelompok 2 |
 |
Presentasi Kelompok 3
|
Ya, semoga rangkaian kegiatan ini, meskipun hanya sehari, berbekas dan memberi dampak positif bagi pembentukan karakter mereka. Ada nuansa keberanian dan kerja keras yang sebenarnya sangat jelas kentara ditunjukkan oleh nelayan Tambak Lorok. Juga ada loyalitas tanpa pamrih dari perintis penghijauan lingkungan yang tak menyerah menanam di kampung ini. Ada ketangguhan kaum ibu membantu keluarga dengan berjualan yang juga tak dapat dianggap angin lalu. Dan masih banyak lagi inspirasi positif yang terhampar. Semoga semua itu menginspirasi mereka.
Setelah magriban, kami pun mulai beranjak pulang dan tiba kembali di SMM sekitar pukul 19.00 malam, dengan membawa segala kesan dan kenangan. Oya, kami sempat menyerahkan paket sembako dan kenang-kenangan untuk para nelayan dan juga anak-anak asuhan Asa Edu. Sebagian dari siswa SMM, sebagiannya lagi berasal dari LAZ Sekolah Alam Ar Ridho.
 |
| Sembako dari LAZ Ar Ridho |
Comments
Post a Comment