• Guru dan Pendidikan Antikorupsi

    Semakin korup sebuah Negara maka akan semakin tinggi tingkat perkelahian antar pelajar, bullying di sekolah, pergaulan bebas, kecurangan saat ujian, dan seterusnya. Apakah hubungan diantara keduanya?...

  • Pendidikan, Untuk Siapa Kau Dinikmati?

    Terlebih keduanya lahir dari rahim dunia pendidikan alternatif. Bang lendo dengan Sekolah Alamnya dan Pak Din dengan Kelompok belajar Qaryah Thayyibahnya. Keduanya, membicarakan sesuatu ‘yang ....

  • Menerbitkan Kumcer Bertema Literasi...

    Literasi Media itu maksudnya agar kita 'melek media'. Bijaksana memperlakukan media dan televisi sebagai alat informasi. Selektif terhadap tayangan, siaran, program dan iklan, berikut bisa mengkritisi terhadap muatan siaran ...

Minggu, 08 April 2018

Mengikat Moment : Pemilihan Guru Berprestasi Kota Semarang (2) -end.

Presentasi PTK

Hari ke-2 pengujian Pemilihan Guru Berprestasi 2018, dilakukan pada hari Selasa (3/4).
Tempatnya bukan di Aula Dinas Pendidikan seperti hari pertama, tetapi bergeser sekitar 100 meter dari sana, yaitu di Aula lantai 2 SD Saint Aloysius.

Sudah ada 4 layar berikut LCD yang disiapkan di sana. Sebab, menu utama hari ini adalah presentasi karya ilmiah. PTK untuk guru dan Best Practise untuk Kepsek dan Pengawas. Di sela-sela presentasi, peserta akan dipanggil satu-satu lagi untuk menyelesaikan wawancara kompetensi yang belum tuntas di hari pertama. Tentang seperti apa pertanyaan dari dewan juri saat wawancara, saya tak dapat menceritakannya di sini, karena ini terkait kode etik menjaga kerahasiaan, sebagaimana ujian tulis yang juga tak boleh disebarkan. Tapi dalam forum yang tepat, tentu saya akan bisa berbagi.

Pukul 08.15, acara dimulai, dan nantinya akan berakhir pukul 15.30 WIB. Untuk presentasi, setiap peserta di beri alokasi waktu 20 menit, dimana 10 menit pertama untuk presentasi, dan 10 menit kedua untuk menjawab pertanyaan atau review dari dewan juri.

Untuk menilai presentasi guru, juri dibagi menjadi 2 tim, setiap tim terdiri dari 2 orang juri. Saat mereview PTK guru, juri mengkritisi mulai dari ide, penulisan judul, metodologi, hingga cara penulisan dan konten pembahasan. Paket kumplitlah. Pengkritisan yang konstruktif tentu saja.
Selain itu, peserta diminta untuk menyerahkan hasil print-out karya ilmiahnya kepada juri. Maka, sedikit keriuhan terjadi ketika guru-guru mencari PTK masing-masing dalam tumpukan portofolio dan PTK yang telah dibawakan panitia ke lokasi. Beberapa berkas nampak tercecer. Untunglah ada guru yang berbaik hati, merapikan dan menatanya kembali.

Beberapa guru, sambil menunggu gliran dipanggil, membuka laptopnya masing-masing. Mereka memanfaatkan waktu memperbaiki slide agar durasi presentasinya tak melebihi 10 menit. Sebab jika lebih dari 10 menit, menurut juri mereka akan menghentikan presentasi walaupun belum
selesai. Saya sendiri, setelah menghitung dengan seksama, akhirnya mendelete 2 slide. Waduh! Selesai dihapus, leptop ditutup. Lalu, mari kita ngobrol, hehe... melepas kepenatan menunggu sambil berhahahihi dengan sesama peserta, khususnya di bagian pojok kanan aula.

Sambil duduk menunggu, kami dapat melihat dari kejauhan, slide yang dipresentasikan oleh peserta. Menurutku, ada yang keren, karena ada animasi dan 'templatenya unusually', tapi ada juga yang biasa banget. Beberapa bahkan sempat membawa x-banner sebagai display tambahan presentasi mereka. Wah, kreatif juga ya... tapi, apakah itu menambah point penilaian ya? Teman-teman dari Tembalang sendiri, tidak ada satupun yang membuat x-banner, karena kami sepakat hal itu sepertinya tidak diperlukan.

Tim Tembalang ini kompak sekali. Kami saling mendukung, saling mendokumentasi, dan saling berbagi informasi, termasuk saya yang dipinjami pointer oleh Bu Jasmi Sucipno. Nuwun ya bu... Tapi, ada juga peserta yang merupakan peserta tunggal dari kecamatannya, sehingga harus berjuang sendiri. Setelah tahu beliau sendiri, akhirnya, tetap kita bantu.

Break sholat, kami kembali ke Dinas untuk menunaikan sholat dhuhur. Kebetulan, usai sholat, diteras masjid, kami bertemu dengan salah satu juri PTK senior, yang bertugas di kelompok sebelah. Kami sempat berbincang-bincang. Saya sengaja tidak mengenalkan diri,beliau juga tidak tahu siapa saya, dan beliau juga tidak menanyakan nama. Ya, supaya tetap obyektif begitulah.

Beliau mengutarakan idenya untuk membuat semacam ruang belajar online khusus PTK dan karya ilmiah lainnya. Apa pasal? karena menurut beliau, judul-judul PTK yang tadi dinilainya, kurang memuaskan, khususnya soal ide penelitiannya. Waow... Padahal yang maju sudah merupakan guru pilihan, tapi menurut beliau nggak keren sama sekali, dalam hati saya berkata begitu. Selain soal penelitian, kami juga berdiskusi soal perkembangan terkini kondisi sosial bangsa, dan bagaimana guru harus bersikap. Wah, saya salut sama beliau ini. Jadi guru harus menginjak bumi, begitulah kira-kira maksudnya.

Btw, Pemilihan Gurpres ini dilakukan setiap tahun, sekitar bulan Maret-April untuk tingkat
Kecamatan dan Kota. JIka tertarik, silahkan teman-teman guru mempersiapkan portofolio terbaiknya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, meliputi 10 elemen : kualifikasi akademik, diklat, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembeljaran, penilaian dari atasan & pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman berorganisasi, dan penghargaan yang relevan. Selain itu, kuasai keempat kompetensi guru untuk tes tertulis, dan membuat penelitian ilmiah, minimal PTK.

Menjelang akhir acara, rombongan pengawas UPTD Pendidikan Kec. Tembalang datang berkunjung untuk memberi support kepada perwakilan guru dan Kepsek dari Kec. Tembalang. Kami pun sempat berfoto bersama. Setiap moment memang penting untuk diabadikan. Karena belum tentu akan terulang kembali, bukan?
IN/Mentor PKB yang juga menjadi peserta Gurpres

di aula SD Sint Aloysius

5 Sekawan utusan KEc. Tembalang

Bu Novi di depan dewan juri PTK

Bersama Pengawas UPTD Pendidikan Kec. Tembalang

Juri mengkritisi PTK
Read More

Mengikat Moment PEMILIHAN GURU BERPRESTASI 2018 Kota Semarang (1)


Kadisdik Kota Semarang, Bp. Bunyamin, membuka acara
Day 1
Hari ini, dan besok (2-3 April) adalah hari pengujian pemilihan guru berprestasi tingkat kota Semarang untuk jenjang SD. Berdasarkn data, ada 44 guru SD, 34 Kepsek, dan 5 Pengawas yang terdaftar sebagai peserta, berasal dari 16 kecamatan yang ada. Nantinya hanya akan diambil masing-masing 1 orang terbaik untuk berlaga di tingkat provinsi.

UPTD Kec. Tembalang mengirimkn 3 utusan guru SD dan 3 Kepsek. Guru SD yaitu bu Novi Arumni (SDN Sambiroto 01), pak Agus Sunawan (SDN Sendangmulyo 01), dan saya (Sekolah Alam Ar Ridho). Sedangkn Kepsek diwali pak Agus Pramono (SDN Sendangmulyo 03) dan Bu Jasmi Sucipno (SDI Tunas Harapan), satu lagi Bu Salamah (SDN Tandang 02) mngundurkn diri. Khusus bu Jasmi, tahun lalu beliau adalah Juara III Gurpres tingkat provinsi.

Hari Senin (2/4) ini, materinya adalah Tes Tertulis dan Wawancara. Tes Tertulisnya tentang wawasan kependidikan. Bentuknya esai 10 soal. Soalnya sedikit, tapi rata-rata butuh 2-4 hlmn folio untuk menjawabnya. Jadi, yg bikin soal pinter deh...hehe...

Saya ucapkan salut pada bpk ibu guru yg mngerjakan soal dg jujur tanpa tengok2 bocoran di hape... Betul-betul guru yang punya integritas.... Yang nyontek, hemmm... Jangan ditiru deh...biarpun nanti nilainya tinggi...biarin... Takutlah pada Allah... Ntar klo nggak berkah gimana coba..hayoo...
Lalu dilanjutkan wawancara face to face, materinya kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Tapi karena hari sdh beranjak sore, wawancara ini dilanjut besok pagi.

Oya, acara ini dibuka oleh Pak Kepala Dinas pendidikan, Bp Bunyamin dan diberi pengantar oleh Kabid GTK Bp Hari Waluyo sbg Ketua Panitia. Pak Bun, berusaha menghibur bpk ibu guru, yang memang rada tegang lan spaneng menghadapi acara ini. Kata PakBun, "pekerjaan guru itu seabrek-abrek... termasuk yg hari ini...tapi semua itu nggak usah dipikirkan.... Betul....saya ulangi, tidak usah dipikirkan.... Tinggal dikerjakan saja. Kalo dipikirkn..sampe pensiun nggak rampung-rampung....klo dikerjakan, meskipun sedikit demi sedikit... mesti rampunge"... Waduh, si bapak...bisa aja..hehe... Tapi sukses, membuat guru tertawa....

Lha, gimana kansnya? Aduh, jangan tanya itu deh... Berada di tengah-tengah guru pintar dan berprestasi rasanya gimana gitu... Klo ada sepeda di sana, mungkin mau ta bawa gowes aja..hehe.... Tapi, yg jelas, sy dapat pengalaman berharga, bahwa mengarsip itu penting... It can save you much.. juga documentation and proove... Saya jadi paham, mengapa ada guru yg tahun lalu ikut dan sekarang ikut lagi...learning from failure judulnya.

Acara tadi juga jadi ajang reuni para IN/MentorPKB. Ada bu Anjar Setyowati, bu Eny Siyamsini Sesilia, dan pak Indra Gunawan. Ikut senang juga ada mentor yg terpilih mngikuti ajang ini.
Ada juga guru TPQ dan pengurus Badko Tpq Tembalang yang juga guru, ketemu di sini, yaitu bu Hanik Munjayanah, pak Muhamad Faizun, dan pak Sahri. Keren dah pokoke...

Baiklah, tinggal tersisa besok, agendanya yaitu lanjutan tes wawancara dan presentasi karya ilmiah, PTK atau Best Practise. Deg-degan yang berlanjut... Hehe... Btw, untuk penilaian portofolionya sendiri sudah dilakukan sebelum ini...awal Maret kemarin.

Mohon doanya teman, supaya diberi kelancaran...dan kemudahan.
Thx to : bu Mintarsih Supriyanto dan bu Asri utk support mentalnya dan bu Arif Rakhmawati utk dukungan dari jarak jauhnya....
Kabid GTK, Bp. Hari Waluyo memberi laporan

Utusan Kec. Tembalang : bu Novi Arummi, pak Agus Sunawan, dan saya
Read More

Senin, 06 November 2017

Batu Prasmanan

Cerdas Cermat Tema Indonesian Culture

Teacher's Diary
Mati Ketawa ala Anak Sekolah Alam

BATU PRASMANAN
Banyak yang terjadi di ruang kelas. Dari isak tangis hingga gelak tawa. Nah, tawa inilah yang bikin guru awet muda.

Belum lama, kelas 5A belajar sejarah nusantara. Materinya peninggalan kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. Dengan berbekal buku ensiklopedia, saya menyampaikannya dengan metode dongeng. Bercerita panjang lebar. Dari kerajaan Kutai, sriwijaya, mataram kuno, singosari, majapahit, hingga kesultanan Demak dan Mataram Islam. Tapi feeling saya mengatakan paling banyak 50% yang nyangkut dibenak mereka. Ya, karena kan cuma mendengar saja.

Karena itu, untuk memastikan materinya sampai. Setelah cerita selesai, saya membagi kelas menjadi beberapa grup, bermain cerdas cermat tematik sejarah nusantara. Wah, ternyata seru. Silih berganti anak-anak berebut menjawab pertanyaan. Betul-betul kompetitif.

Tibalah saat pertanyaan rebutan. Dan pada pertanyaan kesekian, saya bertanya,"apa buktinya Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia?"

Seorang anak sigap mengangkat jari. "Ya, regu B, apa jawabannya?" Tanya saya. "E...e...itu pak..batu pras...pras...prasmanan. ya itu batu prasmanan" jawab si anak pe-de.

 Ha? Wkwkwk... Sontak kelas tertawa. Saya menunduk menahan tawa..tapi gagal ...tertawa juga akhirnya. "O..gitu ya... Berarti mungkin pas mantenan dulunya itu ya...ada prasmanannya", komentar saya. Kelas tambah geerr lagi. Si anak yang menjawab senyum-senyum dikulum.

Tahukah teman, batu apa sebenarnya yang dimaksud murid saya itu?
Read More

Jumat, 27 Oktober 2017

Guru Itu Desainer (2) : Merancang Ekspedisi Karimunjawa


Kantor Balai TN Karimunjawa

Hari ini (27/10), adalah titik nol merancang pembelajaran bernama "Ekspedisi" untuk siswa SD kelas 5 Sekolah Alam Ar Ridho. Rasa 'excited'nya sama seperti saat merancang TDSH (Tour De Semarang Heritage) by bicycle, setahun lalu. Karena memang belum ada contohnya. Jadi musti memulainya dari kertas kosong. Tanya mbah google juga sia-sia. Malah jadi tersesat jauh.

Big thanks to : Bu Yeni, Puji Prihatinningsih, dan Agus Roma untuk segenap info dan layanannya. Dua nama yang terakhir ini adalah sedulur lawas alias teman seangkatan waktu kuliah di Ilmu kelautan Undip. Tak dinyana, malah ketemu keduanya di Balai Taman Nasional Karimunjawa. Jadi humas pula. Keren!

Btw, ekspedisi ini nanti menggabungkan kompetensi leadership kepanduan (scouting), lifeskill, konservasi-ekologi, sosial budaya, baksos, islamika, sains, entrepreuner dan PPK.

Seperti apa jadinya? Tunggu perkembangan selanjutnya.


Bersama Puji dan Agus Roma


Read More

Kamis, 26 Oktober 2017

Guru Itu Desainer (1)


Teacher's Diary
Guru itu Desainer. (1)
Baju, rumah, atau interior. Mudah saja orang mengiyakan ketika disebut itulah hasil kerja seorang desainer. Bahwa ketika disebut guru itu juga desainer, sebagian orang tentu ragu mengangguk. Apa iya?

Padahal, titik awalnya sama. Sama-sama kertas kosong. Atau kalau sekarang, sama-sama layar kosong. Kemudian, sret...sret...jadilah rancangan lalu puncaknya produk jadi. Guru juga seperti itu, merancang...sret..sret..jadilah produk akhir yang namanya : pembelajaran.

Sebagaimana tidak semua orang bisa menjadi desainer, maka tidak semua orang bisa jadi guru dan....ini yang penting, tidak semua guru bisa menjadi desainer: mendesain pembelajaran.

(Bersambung)
Read More

Kamis, 19 Oktober 2017

Ada Apa dibalik Pembuatan Tape?

Membuat Tape, tema Zat dan karakteristiknya

Hari ini (19/10), kelas dagdigdug membuka lemari. Akankah tape yg mereka buat pada pekan lalu itu, berhasil?

Ya, ini pembelajaran tema benda atau zat, submateri perubahan kimia. Paling mudah belajar tentang soal ini dengan membuat tape. Sebagai pembanding, singkong kukus yang sudah ditaburi ragi, dibiarkan terbuka, dan hasilnya : gagal jadi tape. Malah tumbuh kapang atau jamur di singkongnya.

Ternyata, setelah penutup daun pisangnya dibuka. Its works. Cantik tapenya. Tapi beberapa anak langsung menutup hidungnya karena tak kuat dengan baunya.

Tape memang istimewa. Pembuatannya melibatkan 2 perubahan sekaligus, yaitu fisika dan kimia. Perubahan fisikanya pada singkong yang semula keras jadi lembut. Dan kimiawinya, ini yang penting, menghasilkan zat baru yaitu : etil alkohol dan karbondioksida, dari asalnya yang karbohidrat. Sains menyebut prosesnya sebagai fermentasi.

"Pak, leherku panas", kata Hasna setelah menyicip tapenya. Ya, itulah ciri-ciri alkohol, jika dikonsumsi. "Halal nggak?" tanyaku. "Halal...", jawab anak-anak serempak. Dialog lalu dilanjutkan tentang minuman keras beralkohol yang haram bagi seorang muslim.

Tapi, dari 4 kelompok, tape yang rasanya manis hanya ada di satu kelompok, yang lain rasanya asam. Mengapa bisa begitu? Jawaban anak-anakpun beragam. Ada yang berpendapat karena singkongnya direbus bukan dikukus, ada yang bilang raginya kurang banyak. Ada juga yang menjawab karena beda jenis singkongnya. Dan ada yg berpendapat karena telat membuka atau memanen tapenya. Mana yang benar? Melihat ragam jawaban, saya sendiri sudah cukup senang.

Oya, ada istilah sains lagi yang mereka dapat, yaitu Anaerob. Tape sukses besar jika prosesnya anaerob alias kedap udara. Mengapa begitu? Sudah dulu, kita nikmati tapenya dulu...

Tape yang gagal

Tape yang sukses


Read More