• Guru dan Pendidikan Antikorupsi

    Semakin korup sebuah Negara maka akan semakin tinggi tingkat perkelahian antar pelajar, bullying di sekolah, pergaulan bebas, kecurangan saat ujian, dan seterusnya. Apakah hubungan diantara keduanya?...

  • Pendidikan, Untuk Siapa Kau Dinikmati?

    Terlebih keduanya lahir dari rahim dunia pendidikan alternatif. Bang lendo dengan Sekolah Alamnya dan Pak Din dengan Kelompok belajar Qaryah Thayyibahnya. Keduanya, membicarakan sesuatu ‘yang ....

  • Menerbitkan Kumcer Bertema Literasi...

    Literasi Media itu maksudnya agar kita 'melek media'. Bijaksana memperlakukan media dan televisi sebagai alat informasi. Selektif terhadap tayangan, siaran, program dan iklan, berikut bisa mengkritisi terhadap muatan siaran ...

Sabtu, 08 September 2018

Memoderatori Pak Cah : "Wonderful Family Series"

Selfie bersama Pak Cah
Pak Cah, panggilan akrab Ust. Cahyadi Takariawan datang lagi ke sekolah untuk kedua kalinya. Kali ini beliau diundang khusus untuk menjadi pemateri pada acara Parenting Sekolah Alam Ar-Ridho pada Sabtu, 8 September 2018. Sekolah, kemudian mengamanahi saya untuk menjadi pembawa acara sekaligus memoderatori acara khususnya saat sesi tanya jawab. Tanggal yang sama (8-10 September 2018) sebenarnya sedang berlangsung Jambore Federal IV di Jakarta-Bogor. Maka, jadilah tahun ini saya tak ikut berangkat Jamnas IV. Lagipula esok Senin (10/9), saya juga harus presentasi esai di Balai Bahasa Jawa Tengah. Jadi, sempurna. Saya ikuti rencana Allah, yang mengharuskan saya berdiam di Semarang. Ada dua kegiatan. Manalah bisa saya berkutik.

 Pak Cah, penulis lebih dari 50 buku dan juga Kompasioner Terfavorit 2014, hari ini membawa 7 buah buku terbarunya, seri "Wonderful Family". Yaitu : Wonderful Wife, Wonderful Husband, Wonderful Couple, Wonderful Love, Wonderful Family, Wonderful Journey, dan Wonderful Marriage. Beberapa diantaranya oleh Pak Cah dijadikan doorprize, diberikan sebagai hadiah kepada peserta secara cuma-cuma. Mereka yang beruntung adalah yang hari itu menjadi pasangan paling lama mengarungi mahligai pernikahan. Ada 2 pasangan yang mendapatkannya, yang satu abinya Azizah (PAk Saiful Bahri) yang sudah 32 tahun usia pernikahannya dan yang kedua Pak Bambang yang sudah menginjak usia ke 25 tahun.

Pada kesempatan ini, Pak Cah kuberikan kenang-kenangan buku "Cukup Pahamilah saja". Dan diluar dugaan, Pak Cah kemudian langsung membuka dan membacanya saat saya sibuk membagi doorprize lainnya untuk peserta Parenting. Pak Cah kemudian memberi 2 masukan penting untuk buku itu. Pertama, mempertahankan sistematika penyajian. Sebaiknya pengantar di awal tulisan dihilangkan saja dan kedua, hilangkan tahun di beberapa tulisan agar menjadi relevan sepanjang masa (timeless). 

Acara diakhiri dengan foto bersama dan penandatanganan buku (book signing) oleh Pak Cah pada buku yang dibeli oleh beberapa oarng tua wali murid dan peserta parenting. Sampai jumpa lagi Pak Cah. Maturnuwun untuk segenap pencerahannya. Tetap sehat dan barokah ilmunya. Amin.
Pak Cah menjawab pertanyaan dari peserta Parenting

Pak Cah memberi Icebreaking Senam Otak
Download Materi Parenting Pak Cah : Wonderful Family

Read More

Presentasi Artikel Ilmiah di Seminar Nasional Pendidikan Universitas PGRI Semarang

Presentasi di Ruang 1 Sendika UPGRIS 2018

Hari Sabtu (14/7) lalu, alhamdulillah diberi kesempatan menjadi pemakalah panel/pendamping Seminar Nasional Pendidikan PGSD Universitas PGRI Semarang 2018. Artikel ilmiah yang saya tulis berjudul : MENGASAH KEMAMPUAN HOTS, LITERASI, DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS 5 SD DENGAN PROJECT BASE LEARNING MEMBUAT MAINAN BERBASIS GERAK DAN GAYA.

Bertempat di Ruang 1, Aula UPGRIS Lantai 6, saya memaparkan bahan presentasi yang  idenya berasal dari pembelajaran di di kelas 5A tahu ajaran 2017/2018 saat tema Energi. 

Artikel di muat di Prosiding Seminar setebal 1200 halaman dengan ISBN :  978-602-5784-15-6 dan artikel saya itu berada di hlmn 145-157.

Download artikel di link berikut ini :
1. Link Prosiding PGSD UPGRIS  
2. Link googledrive 
Para Pembicara Utama Sendika UPGRIS 2018

Pamflet Sendika

Read More

Rabu, 29 Agustus 2018

Mengapa Guru "Harus" Ikut Lomba Inobel?

Sesi bersama Prof Tine Silvana

Catatan ini saya buat pada hari ketiga saat mengikuti Workshop Lomba Inobel Kemendikbud 24-28 Juli 2018 (dan ditujukan khusus kepada teman-teman guru atau pendidik. Ya... meskipun belum tentu menjadi juara, karena masih ada dua tahap lagi, tapi informasi yang saya peroleh sungguh amat sayang jika disimpan sendiri dan tak dibagi ke teman-teman guru.

Setelah bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman guru di ajang ini, khususnya pak Nur Rakhmat, sebagai sesama perwakilan Kota Semarang yang lolos ke tahap workshop, maka saya memberanikan diri untuk mencantumkan "harus" pada judul tulisan ini. Mengapa begitu?

Pertama, Inobel adalah "jalan tol" bagi guru.
Setiap tahun, Kemendikbud menggelar 3 acara penganugerahan "bergengsi" untuk guru-guru kreatif. Yaitu Guru Berprestasi (Gurpres), Olimpiade Guru Nsional (OGN), dan Inovasi Pembelajaran (Inobel). Gurpres, jalannya terjal bin berliku dan amatlah melelahkan. OGN, syarat untuk mengikutinya sangat eksklusif yaitu Nilai UKG-nya harus masuk kategori yang tinggi. Nah, jalur ketiga inilah, yang paling "ringan", karena semua guru bisa mengikuti lomba ini, tanpa syarat yang berat. Tiketnya cuma satu, yaitu punya karya inovasi pembelajaran. Inilah yang saya maksud dengan "jalan tol".

Kedua, apresiasi Kemendikbud untuk guru yang memiliki karya Inobel sangat tinggi. Mulai dari mengganti biaya perjalanan naik pesawat pulang pergi dari seantero wilayah nusantara menuju lokasi workshop atau pameran (jika menjadi finalis), menanggung seluruh akomodasi, hingga memfasilitasi mengubah karya inovasi menjadi publikasi jurnal atau prosiding bahkan buku. Bahkan, untuk Juara, hadiah istimewa telah menanti. Tahun-tahun sebelumnya, sang juara difasilitasi untuk studi banding merasakan bagaimana keseharian sekolah-sekolah terbaik di luar negeri. Maka, sungguh sangat sayang untuk dilewatkan.

Ketiga, dalam forum pertemuan guru inovator (lolos tahap seleksi), guru-guru dapat saling berbagi dan menginspirasi terkait konsep, media, maupun metode pembelajaran. Kemudian, dari para narasumber workshop yang mumpuni, guru mendapatkan ilmu penting terkait pengelolaan karya inovasi. Diantaranya tentang, ragam KTI, artikel ilmiah, Similiarity dan Citasi, Plagiarisme, Penggunaan bahasa Indonesia, Teknik Presentasi, pameran Karya, dan perlindungan Hak Kekayaan atas Intelektual. Tahun ini, para narasumber berasal dari ragam instansi, ada kampus seperti UNJ, UPI, ITB, Unila, Unpad, hingga LIPI, LPMP, dan PPPPTK.

Jadi, kalau bapak ibu seorang guru berdedikasi, kreatif, dan kaya pengalaman inovasi mengajar. Memiliki banyak "best moment" dari hasil terobosan mengajarkan sesuatu, maka bapak ibu adalah orang yang tepat untuk mengikuti Inobel ini. Ditambah motivasi mengangkat nama sekolah atau wilayah kerja, maka motivasi itu akan berlipat ganda.

Namun, meskipun Inobel adalah "jalan tol", bukan berarti tiada rintangan. Karena bersifat terbuka, tentu konsekuensinya adalah jumlah kompetitor yang lumayan banyak. Tahun ini untuk jenjang SD, pendaftar lomba Inobel di http://kesharlindungdikdas.id yang lolos tahap administrasi berjumlah 452 orang. Artinya pendaftar pertamanya lebih banyak dari itu. Tahun lalu mencapai ribuan. Angk itu kemudian tersaring kembali menjadi 394 orang. Lalu tersaring lagi pada tahap Similiarity dan Citasi menjadi 180 orang untuk 3 kategori atau 60 orang per kategori lomba. Batas similiarity untuk tahun ini adalah 30% dan akan terus berkurang setiap tahunnya. Jumlah tadi akan berkurang lagi menjadi 34 finalis per kategori. Tiga kategori yang ada yaitu : MIPA, IPSPB, dan SORAM. Jadi, perjuangannya tetaplah luar biasa.

Sedikit tips dari saya adalah, selalu dokumentasikan kegiatan yang menarik di kelas bapak ibu guru. Gali terus inovasi mengajar, dan ikat dalam suatu tulisan, agar nantinya lebih mudah mentransformasikannya ke dalam naskah Inovasi Pembelajaran. Satu lagi, tata cara naskah Inobel tidak menggunakan pola PTK (Penelitian Tindakan Kelas), sehingga guru bisa lebih merdeka dalam cara.

Sekarang, jalan telah dibuka. Bola ada di tangan Anda, para guru. Mau mencoba?

Kelas A Workshop Inobel SD 2018

Sesi Presentasi  Desain Pameran Karya

Peserta dari Jawa Tengah : Saya, Pak Nur Rakhmat Semarang,  Bu Azizah Temanggung, Bu Asna Pati
Download : Data 180 Peserta Lolos Seleksi Workshop Inobel SD Kemdikbud 2018
Read More

Cerpen Lolos Seleksi, Alhamdulillah...


Alhamdulillah, dua cerpen anak karyaku berhasil lolos seleksi program antologi 50 cerpen anak yang digagas oleh Balai Bahasa Jawa Tengah 2018. Berikut ini naskah cerpen anak yang lolos :

DAFTAR CERITA PENDEK ANAK YANG LOLOS SELEKSI PENYUSUNAN BAHAN BACAAN PENGAYAAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA TINGKAT DASAR
BALAI BAHASA JAWA TENGAH 2018
  1. Adin Anak Sampah (Pipiek Isfianti)
  2. Aku Anak Istimewa (Mulasih Tary)
  3. Aku Sayang Kamu, Mora (Parno)
  4. Aku Tidak Takut (Qoni’ah)
  5. Andai Oranye Bisa Bicara (Zahratul Wahdati)
  6. Berani Angkat Tangan (Zahratul Wahdati)
  7. Berilah Pancing (Parno)
  8. Bisnis Limbah (Budi Wahyono)
  9. Cerita dari Bunda (Sri Harnanik)
  10. Cermin Cahaya Taya (Pipiek Istianti)
  11. Gara-gara Kue Lompong (Sri Bandiyah)
  12. Hanif Main ke Desa (Sofia Nur Khasanah)
  13. Harta Karun di Kebun (Lia Herliana)
  14. Ibu Separuh Hidupku (Hidar Amarudin)
  15. Itulah Teman (Bambang Tri Subeno)
  16. Jam Sepuluh (Dwi Prastyanti)
  17. Kado Ulang Tahun (Rini Tri Puspohardini)
  18. Kamar Nia (Nie Nindya)
  19. Kejujuran Desa dan Lanting Purworejo (Sri Bandiyah)
  20. Kembang Manggar (Iis Soekandar)
  21. Kerikil-kerikil Ujang (Endang Asihwono Dewi)
  22. Kisah Bahagia Sepeda Tua (Yuli Kismawati)
  23. Kisahku di Hari Minggu (Jefrianto)
  24. Klinik Hewan Moka (Wiwien Wintarto)
  25. Kue Ibu (Dian Nafi)
  26. Menangkap Pencuri Lauk (Ki Sudadi)
  27. Misteri Uang Kembalian (Endang Asihwono Dewi)
  28. Nadira Takut Badut (Dewi Rieka Kustiantari)
  29. Nasihat Kakek (Haryanto)
  30. Pelajaran Berharga dari Desa (Muhammad Fauzi)
  31. Pengumpul Serangga (Indah Darmastuti)
  32. Petualangan Rumi di Pekalongan (Dewi Rieka Kustiantari)
  33. Rantang Landhung (Sri Kanti)
  34. Restu Pendekar Ibu (Riyadi)
  35. Riani Kuncir (Riyadi)
  36. Saat Sasa Berbelanja (Nie Nindya)
  37. Sahabat dari Surga (Handry TM)
  38. Sarung Baru untuk Pak Guru (Doni Riadi)
  39. Semaphore (Sigit Wiratmo)
  40. Semua karena Cicu (Arie Pujilestari)
  41. Sepatu Baru (Rini Tri Puspohardini)
  42. Sepatu Pahlawan (Wiwien Wintarto)
  43. Sepeda untuk Sahabat (Doni Riadi)
  44. Seragam Ayah (Dian Nafi)
  45. Seratus Plus untuk Kejujuran (Bambang Tri Subeno)
  46. Sttt… Ada Hantu Penculik Anak (Mulasih Tary)
  47. Terlalu Kenyang (Jefrianto)
  48. Tomi Alfa Edison (Qoni’ah)
  49. Topeng dari Gibran (Sri Kanti)
  50. Wow, Mendapat Sponsor! (Budi Wahyono)

Editor Buku Antologi Puisi: Bapak Budi Maryono
Read More

Review Buku Cukup Pahamilah Saja (3) : Menyimak dan Mengutip buku Doni Riadi*

Buku "Cukup Pahamilah Saja"

Kemajuan teknologi telah membuat hilangnya beragam pekerjaan yang pada masanya pernah dianggap prestisius. Pekerjaan itu hilang karena teknologi mampu menggantikan fungsinya dengan lebih efektif dan efisien. Menghilangnya beragam pekerjaan itu masih terus berlangsung hingga kini.

Ada prediksi yang menyebutkan, kalau profesi dokter di masa mendatang juga termasuk yang akan hilang. Karena dokter terkalahkan oleh kemajuan teknologi komputer dalam mendiagnosa penyakit. Bagaimana dengan guru? Di masa depan, akankah ia menghilang juga?

Pekerjaan-pekerjaan itu menghilang karena fungsinya yang bisa digantikan teknologi. Jika dalam pekerjaan itu, ada dimensi yang tak bisa digantikan oleh teknologi maka ia akan tetap eksis. Inilah kata kuncinya!

Profesi guru memiliki keduanya. Ia menjadi bagian yang tergantikan _ketika pendidikan tersebut berdimensi tranfer pengetahuan (kognisi), transformasi sikap/akhlak (afeksi) dan melatih ketrampilan (psikomotor). Maka, teknologi/robot akan mengalahkan guru soal transfer pengetahuan. Search engine akan menjadi guru idola bagi siswa. Bahkan mungkin mengantarkannya hingga menjadi sarjana.

Lalu di wilayah manakah yang membuat peran guru itu tak tergantikan? Jawabannya terletak pada penanaman akhlak (value). Ini tak bisa tergantikan oleh robot/teknologi.

Pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana bentuk pembelajaran akhlak yang "guru banget" dan bukan "robot banget" di masa depan? Sebab, sekali lagi, jika nilai-nilai akhlak itu disampaikan layaknya sebagai pengetahuan, maka peran itu dengan mudah dimainkan oleh robot. Kalau sekedar tahu, maka semua orang sudah tahu atau gampang untuk cari tahu. Bahkan murid bisa jadi lebih tahu dari guru. Kunci persoalannya adalah pada internalisasi. Bagaimana sebuah nilai mampu terinternalisasi dalam diri siswa, sehingga ilmu yang diterima sama dengan akhlaknya. Sebab, buah ilmu sesungguhnya adalah akhlak/adab.

Jadi, untukmu yang berniat atau tengah menempuh profesi mulia ini maka perhatikanlah bagian mana dari pekerjaanmu yang harus kau serahkan pada teknologi. Ini harus kau lakukan agar dapat berlari bersama dengan muridmu. Teknologi juga harus jadi temanmu. Tapi ingatlah! Teknologi itu bukan dewa. _Kau tak boleh mati gaya ketika LCD mati. Muridmu juga tak boleh mati kutu ketika dipisahkan dari gawainya.

Kekuatanmu sebagai guru bukan terletak pada penguasaan teknologi terkini. Tapi pada kemampuanmu menggugah nurani. Teknologi itu hanya alat bantumu untuk menghadirkan makna di jiwa hamba. Terus asahlah ia. Karena, inilah yang membuat beda dan mengabadikan profesi ini di ruang masa.

* Guru Berprestasi kota Semarang Tahun 2018

ditulis oleh : Haryatman Prasatya
Guru SMPIT Bina Amal, Semarang
Read More

Review Buku Cukup Pahamilah Saja (2) : Memperkaya Jiwa

Buku "Cukup Pahamilah Saja"

Awalnya saya pesan buku ini untuk guru-guru di sekolah yang saya dirikan. Sekolah Insan Teladan yang tercinta (Eaaaa...), beberapa orang sudah pernah saya ajak ke semarang, dan studi banding ke sekolah Sekolah Alam Ar Ridho Milik salah satu guru saya : Mbak Mia Inayati Rachmania tercinta (😍😍😍😍) , Doni Riadi penulis buku ini adalah salah satu guru di sekolah tersebut. (Wajar sih yaaa.....)

Tahun 2018 ini, ia meraih penghargaan sebagai guru terbaik tingkat kota dan akan maju ke tingkat Provinsi. Jadi tahu dong kualitasnyaπŸ‘πŸ‘πŸ‘

Saat buku ini datang, baca satu halaman, dua halaman, tanpa terasa lembar demi lembar tulisannya sudah saya lahap. Bahasanya mengalir, enak dinikmati, alurnya mudah di pahami ( maklum lah, Doni Riadi kan aktivis Komunitas Wedangjae yang sudah malang melintang di dunia literasi) .

Semakin dibaca semakin penasaran, dan yakin deh, ternyata buku ini bukan hanya cocok dibaca untuk guru, tapi siapapun termasuk remaja-remaja yang sedang mencari jati diri bagus baca buku ini. Bukan hanya agar lebih menghargai profesi guru, tapi juga agar terbuka wawasannya tentang tradisi belajar, long life education. Bahwa belajar itu tidak hanya di sekolah, tapi ambil hikmah dan ilmu dari setiap kejadian.

Yuk mari para guru yang ingin lebih memperkaya jiwa pendidiknya, orangtua yang ingin mendapatkan pencerahan, remaja yang sedang mencari jati diri, atau siapapun yang peduli dengan peningkatan kualitas diri, order langsung ke penulisnya. Buku ini memperkaya jiwa, saat saya beli harganya masih 50 ribu, entah sekarang ? Pesan sekarang siapa tahu senin harga naikπŸ˜† (bw)

ditulis oleh : Bhara Widiastuti
Founder Sekolah Insan Teladan, Bogor
Read More

Review Buku Cukup Pahamilah Saja (1) : Sang Guru Menggugat

Cover buku

Guru itu mengajar, tetapi dalam keadaan tiwikrama seorang guru bisa juga menggugat aktualitas dan kualitas pendidikan khiwari. Sebab sebagai guru, dia bukan saja obyek pendidikan, tetapi juga subyek pendidikan. Sebagai obyek karena dia adalah sasaran peraturan pemerintah dan regulasi birokrasi, tetapi sebagai subyek dia punya “kemerdekaan untuk menyatakan pendapat” sebagai diberikan kesempatan dalam Kurikulum 13 (K-13). Apalagi sebagai anggota masyarakat, dia boleh mengkritik dunia pendidikan, meski akhirnya gugatan itu menjadi oto-kritik.

Hal itulah yang dilakukan Doni Riadi (40), guru di Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang dalam menggoreskan penanya di buku bunga rampai yang diberi judul “Cukup Pahamilah Saja” (2018). Buku ini menghimpun 28 tulisan dari berbagai ragam masalah pendidikan yang ditulis dalam kurun 10 tahun karier kepenulisannya di media massa maupun media social. Meski ditulis dalam berbagai sudut tilikan maupuan tema dan topic, tetapi ada benang merah yang dihasung seorang guru mantan demonstran sekaligus seniman penulis, yaitu sekolah “Laskar Pelangi + Toto-Chan + Qaryah Thoyyibah”. Memang terjemahannya agak sulit, tetapi Doni Riadi Embunpagi – nama akunnya di Fesbuk – telah menemukannya di dalam Sekolah Alam Ar Ridho dan “Sekolah Impian Seluas 2-3 Lapangan Bola” (Epilog: Mimpi Sang Guru, h. 167-170).

Supaya dalam belajar-mengajar itu siswa tidak “mati kutu” dan guru tidak “mati gaya”, maka harus dilakukan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Melalui metode ini, siswa sebagai subyek diajak melakukan beragam kegiatan pembelajaran, baik di sekolah maupun luar sekolah. Siswa lebih didekatkan pada kehidupan alam. Inilah yang disebut dengan “Belajar Bersama Alam” (h. 55).

Doni Riadi yang terpilih menjadi juara I Guru Berprestasi Tingkat Kota Semarang 2018 adalah pribadi yang mengikuti Sunnah Nabi SAW, “Carilah ilmu hingga ke negeri Cina”. Negeri Cina dalam hal ini adalah tempat yang jauh. Pak Guru Doni juga belajar pendidikan Finlandia, meski lewat Allan Schneitz aktivis pendidikan Dream School Finladia yang berkunjung ke Sekolah Alam Ar Rido. “Untuk pendidikan dasar, jam belajar sekolah Finlandia hanya 4-5 jam sehari, lebih banyak bermain dan bersosialisasi. Jam istirahat mereka 4-5 kali. Tidak ada PR. Kalaupun ada PR hanya memperlukan waktu 10 menit untuk mengerjakannya. Walaupun begitu, kualitas pendidikan mereka tetap menjadi juara.” (h. 60-61).

Apa yang saya resensi dari beberapa tulisan Doni Riadi hanya sekilas dan bersifat provokasi, sebab aslinya lebih menggigit dan mencekam jantung perhatian kita kepada pendidikan. Namun sekadar tahu saja, Anda bisa membayangkan dari judul-judul artikelnya: “Peran Pendidikan Agama: Mengapa Harus Bunuh Diri?”, “Bila Kepercayaan Itu Hilang: Wajah Birokrasi Pendidikan Negeri Kita”, “Sekolah Orang Tua”, “Guru ‘Go Blog’, Kenapa Tidak?”, “Pementasan Drama Guru”, “Belajar Bersama Alam”, dan lainnya.

Karena itu, saya anjurkan, luangkan waktu untuk membaca buku ini. Sadarilah bahwa dunia pendidikan kita sudah berubah, dan buku ini bisa sebagai pemandu perubahan itu. (sb).

Ditulis oleh : Saiful Bahri 
Admin Grup FB "Kabar-e Semarang"
Read More