Meeting Perdana VIA26 (Virtual Innovator Academy 2026) di Tengah Malam

 

Meeting perdana VIA26
VIA26, 20 tahun mentransformasi pendidikan

Hari ini (31/03) pukul 23.00 wib, adalah virtual meeting perdana program VIA26 (Virtual Innovator Academy 2026). Durasinya 2 jam. Berakhir hingga pukul 01.00 wib keesokan harinya, pada 1 April 2026. 

Saya berusaha untuk tidak ketiduran hari ini. Sebab kalau ketiduran, dampaknya besar. Panitia sudah wanti-wanti untuk don't miss alias jangan sampai ketinggalan atau tidak hadir di pertemuan virtual ini. Sebenarnya waktu yang dipakai adalah waktu Pasifik. Di sana masih pukul 09.00 pagi. Tapi jam segitu di Semarang sudah nyaris tengah malam. Dan, agar tidak ngantuk, secangkir kopi pahit sudah saya ludeskan barusan.

Agar tidak ada peserta yang terlewat, panitia telah membentuk sebuah grup google chat yang berisi para calon Innovator. Juga, menjadwalkan pertemuan di Google Calendar, agar dapat menjadi reminder bagi peserta. Tepat 1 jam sebelum acara, admin grup mengingatkan dan sekaligus memberikan link meeting pada peserta. Ternyata, meskipun telah dijadwalkan jauh hari, tetap saja ada peserta yang terlewat karena berbagai alasan. 

Sesi perdana ini dipandu oleh duo Innovators, Andrew Caffrey atau biasa dipanggil Andy dan Emma Pass. Andy ngomongnya British banget, logatnya kayak Tom Shelby Peaky Blinders dari Birmingham. Cepat pula. Tapi untungnya, Google Meet yang digunakan ini ada fitur Captionnya yang bisa secara auto menarasikan dalam teks apa yang diucapkan Andy. Emma, tempo bicaranya tidak terlalu cepat dan lebih terdengar seperti aksen Amerika. Yup, meeting ini memang diselenggarakan dalam bahasa Inggris 100 persen.

Menurut Andy, hingga Maret 2026 ini, sudah 2.900 Innovators yang dilahirkan dalam 20 Tahun kiprah Google Certified Innovator ini yang terdistribusi dalam 64 Cohorts penyelenggaraan dan tersebar di 70 negara. 

Dalam 2 jam, Andy dan Emma secara bergantian memandu peserta, kurang lebih 88 orang yang join room malam ini dari berbagai negara. Materi utamanya adalah Design Thinking. Selain main room, peserta juga berkali-kali harus keluar masuk Break Out Room (BOR) yang isinya hanya 2 orang. Di sini, saya berpartner dengan Jeremia Napitupulu yang posisinya ada di Samarinda. Jadi, Andy sepertinya memasangkan peserta dari negara yang sama. Mungkin pertimbangannya adalah soal kesamaan bahasa.

Sebagai studi kasusnya, kami diminta untuk merancang sebuah Tas Sekolah. Dari penetapan masalah hingga presentasi prototipe, Tas Sekolah itu adalah solusinya. Nah, ternyata ini adalah analogi untuk projek tantangan kami nantinya. Andi dan Emma berusaha untuk memahamkan peserta dari mana kita memulai untuk menjadi seorang Innovator, yaitu dari sebuah proses yang bernama Design Thinking. Di tangan Andy dan Emma, durasi 2 jam terasa singkat seperti hanya bilangan menit saja, padahal slide yang tersedia saya lihat 127 halaman. Mantap!

Berikut ini tangkap layar sesi meeting perdananya.




















Comments