Selasa, 02 Agustus 2011

Tugas Pertama Kelas Filosofi : Definisi Sahabat Sejati

Dalam kerinduan, hari ini, ba'da maghrib, aku mengirimkan sebuah tugas, kepada 'muridku' di salatiga sana. Kelas jarak jauh ini kusebut kelas filosofi alias kelas pemikiran. Pastinya tidak semua bisa mengikuti, tapi kuharap ini bisa sedikit membantu mereka. Memperkuat karakter mereka. Utamanya saat mereka di dera masalah. Masalah boleh saja sama, tapi cara menghadapinya pastilah berbeda. Dan itulah yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Yaitu, caranya menghadapi masalah.

Seperti yang Dr. Qardhawi katakan, semua bermula dari pemikiran. Pemikiran yang benar akan mengarah pada sebuah solusi atau pada cahaya. Pemikiran yang benar akan bermuara pada satu hal, yaitu ketaatan kepada Allah. Dan, inilah ranah seorang guru sesungguhnya, membentuk kepribadian...termasuk didalamnya, membangun sebuah pemikiran.

Rileks saja, topik pertama tidaklah sulit. Aku tak memulai dari identitas manusia atau identitas ketuhanan. Semua itu bisa dipelajari nanti, ditahap lanjutan. Tugas pertama, adalah memetakan sesuatu yang setiap hari ada didekat mereka dan bernilai tinggi dimata mereka, yaitu : sahabat.

Jadi, aku mulai mengirim pesan singkat.
"Uraikanlah dengan kata-katamu sendiri, apa itu definisi sahabat sejati?"

Berharap-harap cemas menunggu jawaban, yang mungkin saja tak cukup mendapat respon. Nyatanya, tak lama kemudian datang balasan...

Menurut muridku itu,
"Sahabat sejati adalah sahabat yang tidak selalu mendukung atau men-support diri kita, tapi juga akan mengingatkan jika kita melakukan kesalahan.
Dia memahami kita, dan mencoba untuk menjaga perasaan kita.
Sahabat sejati tak butuh pamrih.
Sahabat yang membawa kita pada kebaikan bukan sebaliknya.
Dia membantu kita memecahkan masalah.
Menolong kita semampunya.
Dan mampu membawa kita pada perubahan yang lebih baik."

^_^ good answer!
Aku berpikir cepat. Sebuah assesment (penilaian) atas usahanya memberikan jawaban harus segera diberikan. Dan penilaian itu, bukan berupa angka, tapi berupa sebuah pengkritisan. Bukan pula dengan semangat mencari kesalahan, tapi untuk hasil yang lebih sempurna.

"Oke, sekarang kita kritisi...kalo boleh", jawabku.
"Wah, komplit ya...! Tapi satu hal, itu semua adalah kacamata kita...harapan kita pada sosok sahabat sejati. Kenapa tak ada ruang buat kacamata dia (sahabat sejati itu) dalam definisi yang kita susun?" tanyaku.
+
Tak lama, datang lagi sebuah jawaban. Nampaknya ia mengamini pengkritisan itu, dengan memberikan jawaban susulan, lebih menyempurnakan.

Muridku berkata,
"sahabat sejati adalah ketika mereka marah, kita tidak ikut marah.
Ketika mereka sedih, kita menenangkan.
Ketika mereka menyakiti, kita bersabar diri.
Ketika mereka berekspresi, kita dukung.
Ketika mereka salah, kita tegur.
Ketika mereka bahagia, kita tersenyum.
Ketika mereka sedih, kita hibur.
Ketika mereka sudah tak lagi berada dekat dengan kita, kita doakan mereka."

^_^ well...that's much better now.
Jadi, sekarang giliran buatku untuk berpendapat,
"In my opinion, sahabat sejati adalah dia yang bisa melihat ada dirinya di dalam diri kita, dan kita mampu merasa ada diri kita di dalam dirinya"

Sahabat boleh banyak, tapi sahabat sejati adalah elitis. Cuma segelintir. Kenapa? Karena itu tadi, ada syarat yang sulit, yaitu keberadaan satu diri dalam dua tubuh. Sahabat sejati itu seperti cermin yang memantulkan bayangan kita sendiri. Khalifah Ali, sang filsuf itu, malah pernah berkata, "Tunjukkan aku siapa sahabatmu, maka aku akan bisa menilai siapa dirimu". Jadi, sahabat sejati adalah diri kita dalam wujud lain.

Perbedaan diantara dua sahabat adalah sebuah keniscayaan, tapi sahabat sejati selalu berusaha mencari persamaan. Sebab dengan itu, kita tak perlu bersusah payah menjelaskan. Cukup pandang matanya saja, semua bisa terselesaikan ^_^. Banyak hal setara atau serupa. cara bertutur, cara pandang hidup, cara memilih kata, cara menghargai keindahan, dan seribu cara lain yang sama, yang seolah-olah kita sedang berbicara dengan diri kita sendiri.

Maka, pertanyaan lanjutannya adalah. Apakah sahabat sejati itu ada? Dimana dia berada? Seperti apa wujudnya?

Sahabat sejati, jika dia berwujud sosok, bisa berasal dari bagian masa lalu. Bisa juga, bahkan masih menjadi bagian dari kehidupan yang sekarang. Tapi, bisa juga ia baru ditemukan di masa mendatang. Atau, satu hal ini, selamanya tak tertemukan. Ia bisa juga berada di dekat kita, atau terpisahkan oleh daratan dan samudera. Namun, sejatinya, betapapun jauh jarak yang memisah, hati dua orang sahabat sejati akan selalu dekat. Sekali tertaut, tak akan mungkin terpisah.

Maka, jika kita bisa menemukan dan yakin-seyakinnya bahwa 'dia' adalah sahabat sejati kita. Maka bersyukurlah kepada Allah, sang Pencipta Sahabat. Sebab, sahabat sejati adalah sebuah keindahan. Kehadiran seorang sahabat sejati dalam kehidupan kita, sudah setara dengan keindahan bumi dan seisinya. Jika, sahabat sejati itu pergi, maka keringlah segala telaga. Begitu bermaknanya seorang sahabat, hingga bisa saja kita mengatakan, "lebih baik berdua sahabat menyusuri kegelapan, daripada sendiri berada dalam terang".

Tak salah lagi, sahabat sejati adalah teman berbagi. Sahabat sejati tidak akan meminta lebih dari yang bisa kita beri. Sahabat sejati memiliki pintu maaf tak terhitung. Kita dapat memasukinya dari arah mana saja yang kita mau. Dan itu tulus, tak hanya terucap lisan tapi juga dari hati. Sahabat sejati membaca sebuah protes atau kritik bukan sebagai serangan melainkan sebagai kepedulian.

Nah, dititik ini, kita bisa menemukan... bahwa lawan kata sahabat bukanlah musuh, tapi ketidakpedulian. Antonim sahabat bukanlah lawan, tapi kemasabodohan. Begitu kita tidak peduli dan begitu kita masa bodoh, maka perlahan demi perlahan... kita telah membunuh sahabat sejati, dan itu berarti...kita juga sedang membunuh diri kita sendiri! Tragis!

Maka, saya sangat terharu, saat membaca blog seorang ayah luar biasa, yang mencoba untuk menjadi seorang sahabat, yang diblognya itu ia berkata :
"Ingin ku peluk dirimu kawan
kudekap, kusayang sayang

senantiasa mengiringi setiap langkahmu agar jarak kemaslahatan tak jauh memisahkan,
…..tapi mampuku hanya sedikit kebenaran dan kebaikan.
kan dapat bergandengan tangan agar jatuhmu tidak begitu dalam,
…..tapi tanganku tak sepanjang jurang cobaan.

bersama mengeja sisa waktu agar gelap tak berkelanjutan,

…..tapi terangku tak seindah purnamanya bulan

ingin ku peluk dirimu kawan

kudekap, kusayang sayang
datanglah…
ini ku punya kesabaran, pakailah tuk membalut lukamu

ini ku punya dada yang lapang, datanglah tuk menyandarkan lelahmu
ini ku punya telinga tuk mendengarkan, alunkanlah segala deritamu
ini ku punya batin tuk mendamaikan, singgahlah tuk berteduh karena sesakmu"


Life oh life...
Tak mungkin kita bisa melalui semua ini sendirian. Ia begitu membutuhkan banyak tangan, untuk bergandengan...

Di akhir kelas filosofi ini, sebuah SMS menyusul belakangan. Ia berasal dari 'jantung hati'ku yang lain. Ia telah membuatku tersenyum dengan kata-katanya :

"A friend gives hope when life's low.
A friend is a place when I have no where to go.
A friend's honest, a friends true
a friend's precious
A friend is ...you

Gnite...
i hope this night, U have nice dream...
and i hope there's me in your dream...
^_^
i luv u, daddy..."

(First Posting : 18 Mei 2008)

0 komentar:

Posting Komentar