Keadilan Untuk Mas Menteri

 

Nadiem Makarim
Mendiknas, Nadiem Makariem

Petang ini (04/09), dapat kabar Mas Menteri resmi jadi tersangka terkait Chromebook. Sebagai orang yg bergerak & berinteraksi di dunia pendidikan, termasuk selama berinteraksi dg Mas Menteri dan terlatih untuk memilah dan memilih informasi di dunia maya, maka :

"Saya prihatin dgn kondisi saat ini. Namun, saya tetap percaya dg kredibilitas Mas Menteri. Saya berdoa semoga Allah dg terang menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, dan menjadikan kebenaran berikut keadilan, sebagai pemenang sejatinya."

Bagi sy, sebagai menteri yg harus mengambil kebijakan strategis untuk melewati masa terberat dunia pendidikan-yaitu masa Covid 19, dan tetap menjaga pendidikan Indonesia tidak terlalu terpuruk, Mas Menteri bisa disebut pahlawannya.

Terobosan-terobosannya, salah satunya terkait Digitalisasi Pembelajaran telah menyelamatkan dunia pendidikan Indonesia. 

Tentu banyak hal baru, diantaranya soal Chromebook itu.

Sy cermati dan sy renungi, ternyata Chromebook itu buat sy, telah menjadi jalan yg penuh keberkahan.

Chromebook itu mencegah sy dari perbuatan yg tidak halal yg lazim dilakukan orang Indonesia termasuk guru,  yaitu cracking kode lisensi untuk aktivasi tools Office  maupun Operating System di leptopnya. Karena rata-rata lisensi akan kadaluwarsa setelah  1 tahun dan harus diperbarui dengan beli ulang lisensinya. Dan guru-guru Indonesia, sebagian besar, belum pada kondisi ideal untuk mampu beli lisensi.

Sementara, Chromebook tidak mngenal beli lisensi. Semua tools office bahkan OS Chromenya yg digunakan free alias tidak berbayar, kecuali memang mengupgrade ke layanan kelas premium. Sehingga, alat kerja sy saat ini relatif dari jalan yang halal dan luarannya pun bisa dipastikan lebih barokah.

Klo mau benar-benar jujur dan dihitung secara ekonomis, Leptop itu lebih mahal karena OS dan aplikasinya harus beli lisensi setiap tahunnya. Sementara Chromebook hanya sekali beli saja. Aplikasinya pun berbasis web non install dan umumnya bersifat free license (gratis).

Chromebook, sepanjang tahu cara menggunakannya,  juga bisa bekerja secara offline, tidak seperti yang dikatakan orang-orang hanya bisa bekerja dalam keadaan online.

Satu-satunya sebab Chromebook tidak disukai, karena cara kerjanya yg berbeda dgn leptop pada umumnya dan cara mengoperasikan tools officenya yang sedikit berbeda. Tapi dg sedikit semangat belajar dan rasa ingin tahu, problem itu tidak akan jadi masalah. Kecuali, ya..buat orang-orang yang nggak mau berubah dari kebiasaan lama, pastinya itu adalah suatu penderitaan. Jadi, itu lebih ke mentalitas pengguna, bukan chromebooknya.

Mas Menteri mengajak guru-guru untuk berani bergerak ke digitalisasi dan kebiasaan-kebiasaan baru agar tidak terhegemoni oleh monomerek. Keluar dari monopoli lisensi produk tertentu menuju ke tanpa lisensi. Guru diajak menjadi konsumen yg lebih kritis dan cerdas, dan yg paling penting : menghentikan kebiasaan nonhalal  dengan cracking-cracking kode lisensi. Itu sebenarnya hal yg patut diapresiasi. Tapi yg didapat beliau malah kebalikannya .

Jadi, semoga keadilan itu akan datang, khususnya untuk Mas Menteri.

Comments

Popular Posts