Jumat, 16 Oktober 2020

PENDAMPING GURU PENGGERAK?

Foto : Dirjen GTK , Dr. Iwan Syahril sedang presentasi program Guru Penggerak yang resmi diluncurkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim 15 Oktober 2020


Saya ingin memulai dari sebuah kalimat, bahwa "sukses sendirian itu tidak keren". Sukses yang keren itu adalah sukses bersama. Ini tidak hanya berlaku untuk perorangan, juga perkumpulan. Sekolah yang sukses itu, bukan sekolah yang sukses sendirian, sementara sekolah di dekatnya mengalami kesulitan. Atau, terkadang kita hanya mau membantu sekolah yang berada dalam jaringan atau komunitas yang sama dan acuh pada sekolah di luar jaringan kita.

Kita mungkin beruntung berada dalam sebuah ekosistem belajar yang menyenangkan, tapi belum tentu dengan sekolah yang lain. Kita mungkin sudah menjadi guru yang merdeka, tapi rekan guru lain masih "terpenjara". Maka sesungguhnya, kita belum benar-benar merdeka, hingga rekan-rekan kita itu terbebas dari "penjaranya". Inilah ciri-ciri pendidikan abad 21. Kolaborasi, bro! Ini bukan pepesan kosong. Sukses di abad 21 tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan kolaborasi. Kolaborasi itu intinya mau berbagi. Berbagi dengan siapa saja. Tak usah pilih-pilih.
Kita bukan hendak mengubah sekolah. Sekolah yang sudah berdiri tidak dapat diubah. Negeri jadi swasta atau swasta jadi negeri. Ya, mungkin sih..tapi langka. Yang hendak kita ubah adalah ekosistemnya, atmosfernya, "mindset"-nya. Artinya isi kepala orang-orangnya. Cara berpikir guru-gurunya. Biarkan bajunya tetap berbeda, identitasnya tetap seperti semula. Yang kita tuju adalah setiap anak, setiap siswa, bahagia di mana pun dia bersekolah. Kenapa? Karena sama-sama menemui guru yang berpihak kepada mereka.
Itulah yang melatarbelakangi pemikiran, mengapa saya mau bergabung dalam program Guru Penggerak, khususnya mengambil pilihan sebagai Pendamping. Saya non-ASN, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dalam jenjang karir saya ketika mengikuti program ini. Sertifikatnya yang ber-JP banyak, tidak terlalu bermanfaat bagi saya. Tapi bukan itu yang hendak saya raih. Itu tadi, saya hanya ingin turut ambil bagian dalam gerbong perubahan atau transformasi pendidikan yang sedang dilakukan Kemdikbud. Dan saya sepakat, cara paling efektif melakukan perubahan itu bukan top-down, tapi bottom-up. Ya, dari gurunya. Guru yang berubah. Itu akan dashyat hasilnya. Saya ingin berdiskusi berbagi cara belajar dan mengajar yang menyenangkan dan pada saat yang bersamaan saya juga belajar dari guru lain. Ini adalah cara belajar paling efektif. Yakni, guru yang belajar dari sesama guru, teaching others alias tutor sebaya. Saya lihat, persentasenya 70 persen. Sisanya barulah belajar dari ahli atau akademisi.
Saya tahu, dari pergaulan di beberapa komunitas guru, ide Guru Penggerak ini lahir dari akar rumput yang kemudian berkembang menjadi sebuah kebijakan pemerintahan. Kemdikbud telah menerima masukan, mengadopsi ide dari guru-guru dan komunitas praktisi pendidikan dan menuangkannya kembali dalam sebuah program besar yang diberi nama Guru Penggerak. Dan saya salut kepada komunitas atau organisasi-organisasi guru yang mau bersabar berdiskusi dengan kementerian mencari cara dan format agar pendidikan di negeri ini terus maju, khususnya dari sisi memajukan kualitas guru.
Ya, Kemdikbud sedang membidik guru-guru yang selama ini melakukan terobosan, guru-guru "nakal" bin kreatif di sekolah namun merasa "sendirian" untuk direkrut dalam barisan Guru Penggerak tadi. Pergerakan mereka perlu didukung secara resmi hingga menjadi sebuah gerakan masif dan legal. Supaya tidak merasa sendirian lagi.
Di laman resminya, tertulis Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru.
Menurut Dirjen GTK, Dr. Iwan Syahril, Guru penggerak mencari bibit-bibit pemimpin untuk ekosistem di masa depan, mempraktikkan pembelajaran berpusat pada murid, dan mendorong guru-guru lainnya untuk sama-sama bergerak. Kalau dalam bahasa sekolah alam, guru yang tidak hanya sedang membangun sekolah tapisedang membangun peradaban, dengan melahirkan profil-profil pemimpin di masa depan. Terlebih, ada potensi lokal, asli Indonesia yang hendak digali dan dielaborasi yaitu pemikiran Ki Hajar Dewantara khususnya tentang Pendidikan yang Memerdekakan.
Guru Penggerak, nanti merekalah bintangnya. Namun, untuk dapat berhasil menjalankan misi, mereka membutuhkan tim pendukung. Tim pendukung ini sebenarnya juga guru atau praktisi pendidikan. Tim pendukung ini direkrut dan dilatih khusus. Ada 3 tim, namanya instruktur, fasilitator dan pendamping. Instruktur mengembangkan modul, Fasilitator akan banyak berperan secara daring di balik LMS, sedangkan Pendamping akan membersamai CGP ini di lapangan. Pendamping ini memainkan peran sebagai Coach para Guru Penggerak. Fasilitator direkrut dari para Widyaiswara, PTP, dan Pengawas. Sedangkan Pendamping direkrut dari guru, dosen, kepala sekolah, bahkan juga pengawas yang memenuhi kriteria. Sedangkan lembaga pemerintah, dalam hal Kemendikbud via Dirjen GTK dan P4TK menjadi "event organizer"-nya.
Seleksi Pendamping
Seleksi menjadi Pendamping ini unik. Saringannya ampun, banyak sekali, sistemik dan manual. Di angkatan 1, dari 41.000 pendaftar, yang lulus sebagai pendamping hanya 614 orang. Saringan pertama, bersifat administratif. Di sini ada surat rekomendasi yang perlu diunggah. Bisa dari Kepsek, bisa juga dari organisasi profesi. Jika dari organisasi/komunitas profesi, pastikan anda menjadi pengurus intinya. Di angkatan ke-2, syaratnya bertambah, minimal telah mengajar 10 tahun. Ini artinya guru yang telah cukup banyak "makan asam garam". Saya sendiri maju dengan rekomendasi dari KKVI (Komunitas Koordinator Virtual Indonesia).
Berikutnya, adalah saringan rekam jejak. Bentuknya menulis esai. Profil diri dipaparkan dalam bentuk esai. Khususnya pengalaman memimpin, melatih, menjadi instruktur, narasumber dan melakukan praktik baik pengajaran. Saringan administratif dan esai adalah seleksi Tahap 1.
Di seleksi Tahap 2, pendaftar harus menulis esai lagi yang disebut dengan Critical Insident. Ada 8 jenis pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur dan obyektif dengan kerangka yang telah ditentukan, dengan jumlah karakter minimal tertentu, dalam waktu yang pendek. Beberapa pertanyaan diantaranya tentang apakah pernah melakukan perubahan di kelas atau di sekolah, membantu guru lain, kreativitas atau inovasi dalam mengajar, dan persoalan berat dalam karir sebagai guru. Setelah itu, ada sesi wawancara daring, kira-kira 45- 60 menit dengan tim seleksi. Jujur, yang paling deg-degan ya saat wawancara ini. Karena kita tidak pernah tahu pertanyaan seperti apa yang akan diajukan kepada kita dan apakah kita dapat menjawabnya. Syukurlah, wawancaranya kemarin jadi mengalir seperti ngobrol saja, hingga tidak terasa memakan waktu 1 jam.
Jika dua tahapan ini terlewati, dan lulus, statusnya masih menjadi Calon Pendamping Guru Penggerak (CPGP). CPGP wajib mengikuti pembekalan yang terdiri dari 2 tahap.
Pembekalan Pendamping
Pembekalan Tahap 1 berlangsung selama 9 hari secara daring berbasis LMS (asinkronus) dan vicon/webmeeting (sinkronus). Pembekalan dilakukan dari pkl 08.00 -21.00 wib, setiap harinya. Ada sesi belajar mandiri menyelesaikan 6 modul, dan ada sesi bertemu Instruktur melalui vicon. Pembekalan Tahap 2 adalah persiapan Lokakarya. lebih ke teknis pendampingan. Berlangsung selama 4 hari, CPGP dapat memilih secara luring atau daring.Luring diselenggarakan di Makasar dan Yogyakarta. Karena alasan pribadi, saya memilih daring.
Modul pembekalan ada 6; 1) Peran Pendamping Guru Penggerak dan Masa Depan Pendidikan Indonesia dan Modul, 2) Pendidikan yang Memerdekakan, 3) Kepemimpinan Menuju Transformasi Pendidikan, 4) Teknik komunikasi untuk pendamping Guru Penggerak, 5) Coaching: Pendamping sebagai coach bagi Guru Penggerak, dan 6) Penentuan Tujuan dan Refleksi Pembelajaran. Luarannya macam-macam. Saya sempat membuat Video, Flyer, Narasi, Podcast sebagai karya penugasan.
Tidak ada materi konten pembelajaran di pembekalan ini. Sebab upgrade kemampuan guru selama ini selalu berkutat di Paedagogi dan Profesional, sementara untuk Kepribadian dan Sosialnya minim. Karena itu pembekalan Pendamping dan juga Guru Penggerak lebih ke pengembangan kepribadian dan sosialnya. Menarik! Bahkan ada materi modul yang khusus membahas 2 pendekatan atau model yang paling mengasah pola berpikir ilmiah anak-anak yaitu Project Based Learning dan Inquiry Learning. Keduanya, diyakini menjadi model belajar yang berpusat pada anak. Dan saya setuju, karena cukup banyak pembelajaran berbasis proyek yang telah dilakukan di lingkungan sekolah alam, Sebagian bahkan saya presentasikan saat sesi diskusi.
Karena itu, pendampingan bersifat multijenjang. Tidak harus selevel pada jenjang yang sama dengan CGP. Sebab, pendamping lebih kepada penguatan motivasi atau menjadi coach bagi CGP. Di sini juga dipaparkan perbedaan Coach dengan Mentor, Instruktur, dan Konsultan. Agar Pendamping tidak keliru menjalankan peran utamanya.
Desainnya, 1 Pendamping mendampingi 5 CGP dan 1 Fasilitator berkolaborasi dengan 2 orang Pendamping. Di beberapa daerah, angka ini bisa berubah, karena di angkatan 1 jumlah fasilitator di bawah target capaian nasional. 1 Daerah maksimal memiliki 10 pendamping dan 50 CGP. Faktanya, ada yang berlebih dan ada yang kekurangan. Jadi, ada penyesuaian di sana-sini. Idealnya, PEndamping dan CP berasal dari daerah yang sama, jika tidak mencukupi barulah diimpor dari daerah lain di provinsi yang sama.
Dalam aksi pendampingan, ada istilah LOkakarya dan Pendampingan Individu. PEdampingan Individu dilakuka secara tatap muka, minimal sekali dalam sebulan. Lokakarya dilangsungkan sebulan sekali. Lokakarya menjadi ajang pertemuan beberapa Pendamping dan CGP berikut KEpala Sekolahnya. Terus demikian hingga 9 bulan lamanya. Setiap agenda LOkakarya berbeda-beda. Ini sperti magang atau KKN tapi dengan waktu yang lebih panjang. Dan saya kira, intens sekali, sebab komunikasi dilakukan dengan semua jalur : daring dan luring.
Setelah 9 bulan, diharapkan CGP telah memiliki kekuatan mandiri untuk melakukan transformasi pendidikan di sekolahnya dan juga membentuk komunitas belajar di daerahnya. Sehingga mampu mengembangkan potensi insitu, kaya ragam moda pembelajaran, dan yang terpenting pro murid.
Apakah ini akan berhasil? Kita lihat saja nanti
Dan jika anda tertarik, masih ada angkatan ke-2 hingga nanti angkatan ke-6. Tentu, jika kebijakan ini tidak dihentikan di tengah-tengah. Jangan kaget, karena kita Indonesia.

*Doni Riadi Embunpagi
Pendamping Guru Penggerak Angkatan I 2020

0 komentar:

Posting Komentar