Selasa, 02 Agustus 2011

Membincang Sekolah Komunitas (Kota)

Bismillah...
mari kita mulai, pembicaraan soal sekolah berbasis komunitas, khususnya komunitas kota. Kenapa kota, sebab sekolah komunitas yang di desa sudah banyak, dan rata-rata sudah sedemikian fenomenal.
diskursus soal ini tentulah sangat menarik, terutama bila pembicaraannya dimulai dalam semangat bahwa suatu saat (semoga Allah memudahkan), kita akan turut ambil bagian dalam pembidanan sebuah sekolah komunitas.

 Agar dikusi tak meluas tak tentu arah, mungkin kita perlu mengumpulkan data dan informasi tentang hal-hal penting berikut ini.

1. mengapa harus sekolah komunitas?
2. apakah karakter 'kota' itu? apa perbedaan mendasar dengan 'desa'?
3. apakah keunggulan 'kota' dalam kacamata sekolah komunitas?
4. apa pula tantangannya? (hal-hal yang tak didapati di sekolah komunitas desa)
5. Seperti apa karakter khas sekolah komunitas kota?
6. Dari titik mana memulai sekolah komunitas kota?
7. Apakah perbedaan mendasar dengan Home Schooling?
8. Resorce apa saja yang mutlak ada di sekolah komunitas ada?
9. Bagaimana pembiayaannya?
10. Siapa murid angkatan pertamanya? (terkait jenjang dan segmentasi murid)
11. masih banyak lagi tanya... simpan dulu saja.

hihi..nanya sendiri, sekarang coba dijawab sendiri.
1. Mengapa harus Sekolah Komunitas?

Jawab :
1. karena sekolah komunitas tidak membangun sekolah, tapi membangun komunitas.
Orientasi akhir pembangunan adalah komunitas sekitar yang berdaya, bukan semata sekolah. Ini adalah refleksi dari banyaknya sekolah yang maju dan besar, tapi tak memiliki akar kuat di lingkungan sekitar. Bakan, sekolah menjadi barang asing di komunitas itu. Fisiknya megah tapi sedikitpun tak dicinta, oleh warga. Parameter berdaya, adalah saat sekolah mampu menjadi sumber inspirasi bagi warga komunitas, baik dari segi ekonomi-kesejahteraan, pemikiran-paradigma, pula tentang iman-perilaku (akhlak), termasuk didalamnya empati-kepedulian sosial yang nyaris hilang cuma berwujud wacana.

2. sekolah komunitas melatih kejujuran.
ini adalah refleksi dari adanya dualisme sikap dan kepribadian para murid yang berbeda ketika di sekolah dan di rumah. Di sekolah menjadi anak manis, tapi di rumah menjadi anak tragis. Keketatan disekolah berbeda 180 derajat dengan keleluasaan di rumah. Pinjam istilah Sucipto hadi Purnomo, "Ada Dusta di Sekolah Kita". Sekolah komunitas, menghapus demarkasi antara kehidupan sekolah dan kehidpan di komunitas.

Sebab, sekolah yang di maksud memungkinkan siswa belajar dimana saja, dengan siapa saja, tentang apa saja, di komunitas itu, bahkan menembus batas kewilayahan jika telah terintegrasi dengan internet. Standar perilaku akan sebanding lurus dengan standar etika dan norma yang ada di komunitas itu. Itu sebabnya, walaupun masih anak-anak dan muda, mereka telah dimintai pertanggungjawaban untuk turut menjaga etika dan norma, plus nilai-nilai agama yang diyakininya. Bahwa, etika dan norma bukan cuma milik dunia orang dewasa saja.

Dengan demikian, mereka belajar akhlak dalam makna kesejatiannya, langsung berinteraksi dengan warga belajar lainnya atau warga komunitas. Tidak cuma hafal dan mudeng di atas kertas, tapi bobrok di realitas. Sedari muda mereka telah dikenalkan dengan realita. Belajar jujur sejak dini.

3. sekolah komunitas memuliakan keluarga.
Madrasah pertama dan paling mulia adalah keluarga. Sekolah komunitas memungkinkan anak dan orang tua tumbuh bersama. Anak belajar dari orang tua, dan orang tua terinspirasi banyak hal dari anak. Orang tua dapat lebih optimal melihat atau bahkan turut memahat karakter anak dalam proses tumbuh-kembangnya. HUbungan emosional erat ortu-anak inilah, hingga siap masanya untuk berpisah, adalah faktor utama penciptaan ketangguhan anak di masa depan. Betapa banyak anak di dunia ini yang berstatus anak tapi tak merasa memiliki ibu dan ayah.
4. Sekolah komunitas menciptakan hubungan kekeluargaan dan solidaritas
metode belajar bersama dan bersama-sama belajar, dalam bentuk proyek karya atau forum-forum, yang berbasis pada keminatan dan lintas jenjang, secara tidak langsung telah menghapus tembok senioritas. Senioritas yang diterjemahkan secara keliru di sekolah-sekolah Indonesia biasa dijumpai di awal semester belajar, dalam bentuk perploncoan. Siswa baru, dibuat sedemikian rupa hingga merasa inferior, dan 'takluk' kepada kakak kelas. Tidak jarang muncul fanatisme sempit antar angkatan. Hal ini bahkan berlanjut hingga kuliah bahkan di sekolah kedinasan sekalipun.
Cara berinteraksi antar siswa yang 'jadul' ini, melahirkan efek-efek lain. Misalnya, adanya ketidakakraban antar jenjang kelas. Adik kelas tidak kenal kakak kelas, dan merasa tidak perlu pula untuk peduli.

Di sekolah komunitas, walaupun jenjang kelas tetap ada, tapi keminatan terhadap suatu hal, menjadi dasar utama. Seringnya kerja bareng atau eksplorasi bersama yang bersifat lintas jenjang membuat hubungan emosional sesama warga belajar menjadi kuat. Spirit angkatan tetap ada, tapi spirit sebagai satu komunitas warga belajar juga kuat. Adik kelas respek terhadap kakak kelas, bukan semata karena lebih tua, tapi juga karena banyakknya ilmu dan karya yang dihasilkan. Kakak kelas juga tak meremehan adik kelas, karena, dalam hal tertentu bisa saja sang adik kelas memiliki keunggulan. Spiritnya, adalah eksis bersama, bukan eksis per angkatan.

Dalam kondisi eratnya hubungan emosional untuk tumbuh bersama, maka dijamin tidak akan ada yang namanya 'bullying' di sekolah komunitas. Setiap karya yang dihasilkan akan selalu mendapat apreasiasi, betapun sederhananya. Tak ada ejekan tak ada penistaan.

Sekolah konvensional umumnya menyediakan eskul sebagai pemecah masalah hubungan antarjenjang. Tapi sayangnya, bobotnya cuma sebagai komplement atau pelengkap bukan utama. Ya...sebut saja sebagai hiburan gitulah...
Bahkan ada pula yang sudah bergeser menjadi fungsi politis dan pencitraan sekolah. Sekali lagi, dalam hal ini, anak menjadi komoditas dagangan.

5. Sekolah komunitas memberi ruang besar kepada prinsip Multikecerdasan.
Kendala klasik sekolah yang hendak menerapakan cara belajar multikecerdasan adalah assesment atau penilaian hasil belajar yang masih monokecerdasan. Mungkin, dalam prosesnya, siswa telah diberikan kelonggaran untuk belajar dengan cara belajar sesuai fitrah kecerdasannya. Tapi, tetap saja, ukuran keberhasilan belajar, kembali lagi pada berhasil atau tidaknya ia menyelesaikan soal-soal kognisi, yang lagi-lagi memanjakan siswa-siswa yang kuat 'logic-math'nya. Bahkan, pada jenjang terakhir, semua 'privelege' cara belajar itu sirna, karena sekolah terfokus mengejar kelulusan UAN. Hari demi hari diisi dengan pengayaan, dari soal satu ke soal lain. Ucapkan saja goodbye terhadap ide semacam membuat karya 'masterpiece', karya terbaik di akhir jenjang, yang dibuat berbasis pada potensi dan kecerdasan yang dimiliki seperti musik, seni, olahraga, ultimedia, menulis, dan lain-lain. Semua, tiba-tiba menganakemaskan satu-dua biji mata pelajaran yang di UAN-kan. Sisanya... nggak penting. Lagi-lagi... ada kasta di sekolah. Guru yang mapelnya di UAN-kan menempati kasta istimewa. Yang lain... nggak boleh ngiri kalee...hehe...

Di Sekolah komunitas, warga belajar di beri keleluasaan untuk memilih apa yang ia hendak pelajari, dengan cara bagiamana dan seterusnya. Pagar kreativitas itu adalah suatu waktu tertentu dimana mereka harus bisa mempresentasikan karyanya. Artinya, kebebasan cara belajar yang diberikan, batasannya bukan nilai angka, tapi pengakuan sosial atau bahkan finansial dari karya kreatif yang dibuatnya. Proses yang dijalani dalam membuat sebuah karya inilah yang diyakini sebagai proses belajar yang sebenarnya. Sebab dalam berkarya mereka bisa saja mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan, mulai dari membaca buku, broswsing, hingga interview langsung dengan pakarnya. Mereka tumbuh sesuai fitrah dan kecenderungannya, dengan cara yang penuh kreatifitas. Tak sekedar duduk di kelas di kursi yang sama berjam-jam berhari-hari di kelas yang sama.

Sederhananya, warga belajar yang suka dengan dunia sinematografi, akan mengapresiasi dan mencari tahu hal-hal berikut ini : linguistik (naskah, skenario, kritikus/esais), multimedia (video editing, sound engineering, desain grafis) mungkin juga akting, fotografi. Termasuk ekonomi-marketing, ilmu hitung. Dan juga filsafat, sebagai faktor pembeda genre jenis film yang diminati.

Adapaun UAN, bagi warga belajar yang ingin mendapat sertifikat kelulusan, sekolah tinggal mengikutsertakannya dalam Program Ujian Kesetaraan. UAN bukanlah dewa. Cukup menyisakan sedikit saja waktu untuk mempersiapkannya, maka bereslah sudah. Di era TIK seperti sekarang ini, banyak website atau blog yang bermurah hati menyediakan laman-laman interaktif untuk mempersiapkan diri menghadapi UAN. Intinya, ijazah itu penting, tapi kemampuan-kapabilitas jauh lebih penting.

Trio 'Zafika' (Izzah, Fina, KAna) dalam buku "Lebih ASyik Tanpa UAN", yang merupakan hasil pengalamannya mengikuti UAN di sekolah induk mendapatkan pengalaman bagus. Beberapa saat sebelum ujian dimulai, seorang guru Fisika memberikan kisi-kisi yang diujiankan. Murid-murid kemudian ramai mempelajari di buku pegangan, termasuk Trio Zafika. Dalam waktu singkat mereka belajar memahaminya. Lantas, mampu mengerjakan soalnya. Tapi kemudian, sebuah pikiran besar mereka ajukan. Apakah itu yang disebut dengan belajar???

6. Sekolah Komunitas Lahan Subur tumbuhnya semangat Enterpreunership dan Trainership
Enterpreuner (berdiri di kaki sendiri) dan Trainer (Inspirator), adalah dua hal penting di hidup ini. Saya sendiri masih tertatih-tatih untuk bisa mandiri secara ekonomi (masih jadi orang gajian). Tapi, semangat sekolah komunitas, adalah untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Untuk berdaya di kaki sendiri. Karena dia berwujud lembaga belajar, maka produk yang paling mungkin dijual adalah karya kecerdasan atau jasa. Menjadi penerbit indie atas novel-novel maupun buku karya nonfiksi warga belajarnya, adalah sedikit contohnya. Begitu juga dalam bentuk video cd dokumentasi atau cara belajar. Jasa video shooting, fotografer, nasarumber training dan seminar. Bahkan pula dimungkinkan pula menjual produk hasil gardening plus pupuk organik, produk olahan susu, hasil tata boga, dan seterusnya. Pendeknya, berkarya dan berproduksi, untuk mempertahankan hidup. Apalagi motivasi terkuat selain itu?

7. Sekolah Komunitas sekolah alternatif.
Tak dapat dipungkiri, tingginya biaya untuk mengakses pendidikan bermutu, menjadi awal motivasi lahirnya sekolah komunitas. Motivasi ekonomi. Jarak sekolah yang jauh, berdampak pula pada tingginya biaya transportasi, menambah berat pembiayaan itu. Mungkin ada pula sekolah yang memberi subsidi atau bahkan menggratiskan sama sekali, tapi kemudian abai dalam hal mutu belajar. Maka, sekolah komunitas tampil menjadi alternatif solusi. Menawarkan pendidian berkelas tapi tak harus mahal.

Sekolah komunitas bukanlah sekolah sisa-sisa. Menarik untuk melihat Q-Tha, yang mewajibkan murid-murid baru mendaftar sebelum hari H pengumuman penerimaan baru di Sekolah Negeri. Mereka tak ingin menerima murid 'pelarian' atau sisa-sisa. Murid sekolah komunitas adalah mereka yang secara sadar dan berkomitmen untuk turut membesarkan sekolah komunitas. Jadi, seleksinya adalah niat dan semangat kuat untk mengecap model belajar alternatif ala komunitas. Bukan gedhe-gedhean uang SPI atau faktor material lain.

Jika kelak (saat ini sudah ada) produk Sekolah Komunitas mengalahkan atau setara dengan Sekolah 'Unggulan'. Maka, ini adalah sebuah tamparan keras buat sekolah unggulan itu. Sebab, input sekolah 'unggulan' adalah siswa-siswa yang sudah 'unggul' . Sementara sekolah komunitas menampung semua karakter, dari 'unggul' hingga 'underdog' menjadi siswa-siswa yang nantinya berkarakter dan berdaya saing. Inilah sekolah sesungguhnya, menjadi pencerah bagi segala gelap di asal mulanya.
(First Posting : 7 Agustus 2008) 

0 komentar:

Posting Komentar