Selasa, 02 Agustus 2011

Dialog Imajiner dengan Kant : MENGHANCURKAN TEMBOK STAGNASI (MENULIS) - Part 1

Hari ini, aku mengundang Kant, Immanuel Kant, seorang filsuf asal Jerman abad pertengahan. Konon, ia adalah angota komunitas rahasia Illuminati alias "Mereka yang Tercerahkan". Beberapa hasil pemikiran Kant tentang Pencerahan (Enlightment), khususnya "SAPERE AUDE!" hingga hari ini masih diperbincangkan, terutama di kampus-kampus. Sebenarnya aku juga ingin mengundang Plato atau Da Vinci Si Master Mason itu, namun karena kondisi mereka telah telalu renta, sehingga sulit untuk bisa datang memenuhi undanganku.



Dulu banget, aku pernah 'dekat' dengan Kant ini. Bersama dengan Tan Malaka lewat "Madilog" dan Hegel yang menulis "Marx", aku mengikuti pengembaraan berpikir mereka, sebelum kemudian disudahi karena ada pemikiran lain yang tak kalah oke, Al-Banna dari Mesir.

Aku mengundang Kant, karena kuharap ia bisa membantuku menemukan jalan keluar. Aku sedang terjerat dalam masa kegelapan. The Dark Age of Writing. Tinta penaku membantu. Stagnan.

***

Kant : "yow, brother... Tumben, memanggilku kemari. Wazz up?"
Doni : "Ya, silahturahim gitulah...mumpung bulan puasa, kan"
Kant : ^_^

Doni : "Jelasin lagi dong tentang SAPERE AUDE! -mu itu."
KAnt : "oh itu..."Sapere Aude" = Beranilah menggunakan pemahamanmu sendiri! Btw, kau tidak memanggilku hanya untuk mendengarkan aku mendongeng "Sapere Aude", kan?"

Doni : "^_^.. begitulah, kurasa "Sapere Aude"-mu itu bisa menjadi awal terpecahnya problemku. Sudah lama aku tak berpikir. Selama ini pula aku menelan mentah-mentah apa saja yang mampir melalui mulut dan telingaku. Sekarang, bahkan aku sendiri tak tahu banyak apa saja yang sebenarnya sudah aku telan."
Doni : "Bantu aku mencari jawaban, mengapa begitu susahnya aku merangkai kalimat, aku kehilangan spirit buat menulis kata-kata yang panjang dan bermakna. Tak ada tulisan baru dalam dua blogku, juga buat media-media yang lain. Bahkan, aku juga tak hendak menggunakan kamera sebagaimana mestinya, menggantikan tulisan dengan rupa. Tidak juga ada grafis baru. Tak ada karya baru hari ini.

Kant : "Gimana rasanya?"
Doni ; "Bloody Hell!... Killing me softly!"

KAnt ; " MAri kita urai satu-satu. GUnakan pemahamanmu sendiri. Temukanlah"
Doni : " Apa karena aku kurang dekat dengan Allah? Sehingga Dia men-disable kemampuanku menulis? BUkankah semua ilmu yang ada dimuka bumi ini milik-Nya? Ia bisa berikan kepada siapa yang Ia mau sebagaimana ia tidak menghendakinya dengan mencabutnya"

Kant : "hemm...it's sound so spiritual. Oke, biarkan mengalir. Bagaimana dengan dzikirmu? Apa kau bilang dulu? Dzikrullah?"

... (silent)

Doni : "entahlah juga...bingung aku menjawabnya. Jika kujawab iya, bagaimana jika ternyata dzikirku hanyalah sebatas membasahi lisan, tanpa hatiku turut serta berdzikir. Bila kujawab tidak, ahhh... itu tidak mungkin...aku tidak segersang itu. Tapi, jujur kuakui...aku gelisah"
Kant : "Lalu dimana kekuatan kata yang kau tulis dulu...'Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.'...BAgaimana kau menjelaskannya?

Doni : "Kant, pokok permasalahannya adalah...aku masih berdzikir dengan lisanku... Aku masih menyebut nama-Nya, dengan takzim...tapi aku kehilangan kekuatan untuk berdzikir dengan tulisanku... dengan penaku."
Kant lalu menghela nafasnya. Sejenak ia menyeruput kopi hitam dihadapannya. Kopi yang sudah mulai dingin tentu saja, karena dibiarkan lama di cangkirnya.

Kant : "Mungkin karena tak ada lentera. Kau tahu... yang ditemukan si Edison itu...Lampu kedip-kedip di atas kepala, alias ide. Kau tak punya ide buat menulis?"
Doni : "Tidak, justru ideku menumpuk-numpuk. Ngantri buat ditulisi."

Kant : "Mungkin kau bingung darimana mulai menulisnya?"
Doni " "KAnt, please deh... Aku guru menulis. Ini bukan soal tak ada ide, atau bingung memulai menulis, atau bagaimana soal lead yang bagus, atau teknis-teknis lainnya. Ini soal spirit... motivasi...atau apalah namanya itu."

Kant : "hahaha... rileks, bro. Mari kita urutkan. Katamu tadi, engkau gelisah, lalu kehilangan motivasi, energi buat bergerak. nah...kurasa, kau harus mulai dari situ. Mengapa energimu menurun drastis? ada apa dengan motivasimu? Kurasa ini, bukan soal Allah yang mencabut kemampuanmu menulis... tapi engkau sendiri yang menekan tombol turn off,.. di bawah alam sadarmu...engkau sedang menggali lubang kuburmu sendiri."

Doni lalu memalingkan wajahnya, menyandarkan punggungnya ke bahu kursi. Kant lalu bisa melihat sosok didepannya ini sedang menerawang jauh.

Kant : "Kau sedang ada masalah? itu yang mengganggu pikiranmu?"
Doni : "emang ada, manusia tanpa masalah?" (masih dengan menerawang jauh)
KAnt : "show me the problem... selesaikan satu-satu"
Doni : "ya, kurasa, sedikit banyak ini berpengaruh... so complicated. Tapi kurasa itu semua karena soal manajemen hati...soal caraku memandang semua problem. semua sisi hidupku bermasalah...tapi itu tadi, bukankah untuk itu manusia hidup? memecahkan masalahnya, meski dengan cara yang berbeda-beda."

KAnt : "jadi, sebenarnya... kau hanya butuh 'a rubbish box'. Sebuah 'kotak sampah' yang bisa kau tuangi dengan segala sampah dan sumpah serapah. Bukankah begitu?"
Doni : "itulah yang aku tak punya...sehingga, kurasa ia sudah menggunung kini... mungkin saja, aku akan mati dakam gunungan sampahku sendiri...

Doni lalu berkata lirih : "dia pergi... ada sesuatu yang berharga dalam hatiku, dan kini dia pergi.."
Kant : "terdengar melodramatik kini... ^_^"
Doni : " ya...diantara yang pergi itu bernama : idealisme... Lalu ada juga yang bernama...ahhh... i'm sorry, i can't tell you more...poor me!"

KAnt : "oke, kita dapat satu titik terang. Jalan keluarnya adalah, kau memanggil kembali mereka yang pergi untuk datang kembali, atau kau menyusun kembali kamar-kamar baru untuk sesuatu yang serba baru nanti. Sekarang ke titik gelap satunya lagi, yaitu motivasi."

Kant : "menulislah...lumayan kan fee-nya bisa buat THR Lebaran"
Doni : "ga minat, bro..."

Kant : "bagaimana jika, agar fee-nya itu bisa buat kau sumbangkan buat anak yatim? atau yang setara mulianya dengan itu?"
Doni : ....(menghela nafas saja)

Kant : "Atau karena sudah tidak banyak yang memuji tulisanmu, lalu kau kecewa?"
Doni : "cape deh..."

Kant : "Lalu, bagaimana kau menjelaskan kalimatmu sendiri..yang "menulislah sebagaimana engkau bernafas?... kau harus bertanggungjawab soal itu."
Doni : "blame me...salahkan saja aku, aku menerimanya"

Kant : "Selamat... kau benar-benar telah sakit jiwa. Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kau perbuat, jangan-jangan kau juga telah kehilangan mimpimu...Manusia tanpa mimpi..huh, layaknya London tanpa Big Ben, Paris tanpa Eiffel, dan Cina tanpa The Greatwall... Ayolah!"
Doni : "Tidak, karena justru diriku dipenuhi mimpi, tidak ada lagi ruang realis tersedia..."

Kant : "Maka, bagilah mimpimu itu, jika kau memang masih punya mimpi... aku takut, angan-angan kosong belaka namun kau sebut mimpi yang hanya ada dikepalamuitu. merekalah sesungguhnya parasitnya...menggerogoti energimu laksana kanker ganas."

Kant : "Okey, now listen carefully... Buang jauh-jauh segala niat muliamu, yang kau sebut dakwah bil qolam itu, sebagai motivasi terkuatmu menulis. Kadang itu bagus untuk suatu waktu yang lain. Tapi untuk saat ini, kurasa itu tak cukup relevan. Menurutku, jadikan menulismu itu sebagai obat bagi dirimu, yang sedang sekarat. ANggap dirimu sedang sekarat, dan obatnya hanya satu : menulis. Kau tak menulis, maka kau menghampiri kematianmu."
Doni :"ya.. i'm dying...sekarat"

KAnt : "nah, bukankah kau kemarin baru sja mengutip Rendra ...bahwa 'aku sakit...lemah...tapi aku berdaya...' di detik-detik kematiannya? Rendra menulis dan ia terobati..ia merasa masih memiliki daya...meski tubuhnya harus luluh melawan usianya. Kamu tau, di dunia ini...yang sakit ingin merasa sehat, tapi yang sehat lebih memilih sakit...agar dikasihani dan disantuni..."
Doni : "stop..stop...aku tahu maksudmu...kau ingin mengatakan, aku tidak pantas caper pada usiaku sekarang ini bukan? Tapi, kurasa kau benar. Semakin lama aku berkubang dalam masa kegelapan ini, maka semakin terkubur aku dalam-dalam. Kau juga benar, obatnya hanya satu...menulis..."
Doni : " lega deh...akhirnya aku bisa juga egois. aku dari dulu ingin menjadi sosok yang berpikir egosentris...tapi tak pernah menemukan alasan dan apologis yang me-mubahkan semua keegoisan itu. Sekarang, aku menemukannya. Aku harus menulis, untuk diriku sendiri... to survive...untuk mengobati jiwaku...hatiku...diriku..
."

Kant :"JAdi, Legakah kau sekarang? Jika ia, aku ingin pamit pulang. Socrates telah menungguku untuk berdebat soal eksistensi manusia dan kemanusiaan. Do u want to joint?"
Doni :"maturnuhun, Kant... kau telah banyak membantu...soal tawaran itu, ya...kapan-kapan aku akan gabung...asal aku boleh membawa muridku turut serta..hehe ^_^"

Aku kemudian mengantar Kant ke depan pintu gerbang, sambil memaksanya membawa sebiji duren. Iya, Kant kan belum pernah makan duren... Hihi, biar dia bingung, apa enaknya buah yang kulitnya saja sudah berduri. Ahh...apa hubungannya, stagnasi, Kant, dan duren? Dasar!

(First Posting : 2 September 2009)

0 komentar:

Posting Komentar