Selasa, 02 Agustus 2011

Ada Apa dengan Kelas-Kelas Kita?

JIKA kita pernah membaca buku “Gadis Cilik di Jendela : Toto-Chan” karya Tetsuko Kuroyanagi, pasti kita akan berkesimpulan, betapa senangnya menjadi Toto-Chan. Gadis cilik yang belajar di gerbong kereta api, yang disulap menjadi ruang kelas. Gaduh, menyenangkan, namun penuh imajinasi petualangan.

Fisik ruangan kelas memang mempengaruhi kedinamisan. Tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu karakter atau atmosfer belajar di sebuah sekolah.
Dan Toto-Chan beruntung, karena sekolahnya, Tomo Gakuen, beratmosfer bahwa belajar itu (haruslah) menyenangkan. Beda dengan sekolah sebelumnya, dimana Toto-Chan dikeluarkan dari sekolah karena terlalu keseringan melihat jendela (keluar) saat pelajaran berlangsung.



Meski sedikit berbeda, tapi atmosfer serupa juga diciptakan Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam episode Laskar Pelangi. Meski kelasnya reot dan hampir rubuh, tapi Bu Muslimah memberi keleluasaan pada murid-muridnya untuk mengejar pelangi setiap hujan usai (meski pada jam sekolah). Sebab, Bu Muslimah memahami bahwa ada mimpi dan cita-cita dalam benak setiap anak saat memandangi pelangi.

Pertanyaannya, bagaimana kondisi kelas di sekolah-sekolah kita secara umum ? Dalam bahasa Jhon F Kennedy, What’s wrong with our education ? Atmosfer seperti apa yang tercipta ? Kita tentu berkeyakinan masih banyak sekolah yang berpihak pada kefitrahan anak-anak, walau tak menutup kemungkinan banyak juga yang tanpa sadar menjadi penjara bagi anak didik kita.

Sekolah menjadi penjara ? Ini bukan klaim sepihak penulis, para murid pun menyuarakannya. Terbukti, dalam pengalaman pribadi penulis, saat menjadi juri dalam Lomba Menulis Artikel untuk Siswa SMA/MA se-Jawa Tengah bertema dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar oleh aktivis-aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Semarang bekerja sama dengan salah satu biro lokal koran nasional beberapa bulan lalu ini, yang diikuti oleh 44 peserta. Hampir tiga perempat naskah yang masuk berisi uneg-uneg dan curah hati para siswa terhadap cara belajar yang menjemukan, membebani dan tak membebaskan. Ada yang sebatas mengeluh, namun ada juga yang menawarkan ide-ide segar kreatif agar sekolah bisa menjadi tempat favorit yang senantiasa dirindukan.

Lalu, apa penyebabnya ? Dimana akar masalahnya ? Secara garis besar problem substantisial (sekaligus tantangan) pendidikan di Indonesia, khususnya di jenjang dasar hingga menengah, adalah : Pertama, kesulitan untuk mengintegrasikan beragam subyek mata pelajaran menjadi suatu kegiatan belajar yang terpadu.
Eksis di kehidupan nyata membutuhkan integrasi beragam ilmu pengetahuan, kemampuan kognisi, dan spirit berkinerja. Namun, kehidupan (belajar) di sekolah justru memisah-misahkannya, sehingga efeknya adalah terjadi kegagapan kolektif ketika lulusan sekolah masuk ke dunia nyata. Lagi, membutuhkan proses cukup panjang untuk bisa mengubah paradigma dan cara mengajar yang integratif, karena lembaga ilmu pendidikan (plus psikologi) yang memproduksi guru-guru berpanduan pada referensi atau kurikulum yang memisah-misahkan ilmu pengetahuan.

Kedua, sekolah terlalu berorientasi pada kecerdasan siswa. Dimana representasi kecerdasan itu bahkan telah tereduksi sedemikian rupa menjadi angka-angka (nilai). Padahal, tugas hakiki sekolah, sebagaimana mengutip Mohammad Fauzil Adhim (Suara Hidayatullah, 2008), adalah membentuk pribadi yang memiliki integritas moral tinggi, berakhlak mulia dan produktif yang berpijak pada fondasi akidah (keimanan).

Banyak hal dalam definisi kecerdasan yang tak bisa diwakili dalam angka, namun tampak nyata-nyata ada dalam kehidupan. Dalam konteks keimanan yang berbicara, seorang murid akan menemukan jati dirinya, mengetahui tujuan hidupnya, dan secara otomatis akan gigih mengejar kecerdasan (ilmu) yang dirasa memberi kemanfaatan bagi dirinya.

Inilah jawaban, mengapa banyak guru yang mengeluhkan betapa minimnya antusiasme anak didik terhadap ilmu, hatta (walaupun, red) ilmu itu telah dipromosikan sedemikian rupa oleh guru sebagai sesuatu yang bermanfaat  di masa depan. Tak disadari, anak didik telah terlanjur cedera, terluka oleh penganiayaan akademik dalam bentuk pembebanan target-target penguasaan secara kognitif materi-materi pelajaran (terutama materi UN). Mereka gagap, tak mampu menghidupkan nalarnya, apalagi hatinya, untuk menghidupkan kepekaan diri, yang dengan kepekaan itu melahirkan semangat yang berkobar-kobar untuk mencerdaskan diri dan menebar kemanfaatan.

Ketiga, kesulitan menerapkan prinsip belajar menyenangkan dan kesetaraan guru-murid sebagai subyek pembelajar. Meskipun dua hal ini telah diketahui lama dalam dunia paedagogis, namun prakteknya tidak banyak ditemukan. Pendidikan gaya bank yang dikritik oleh Paolo Freire (LKis, 2003) sebagai dehumanisasi ala sekolah, serasa telah menjadi pola baku sekolah dan tak mudah untuk diubah begitu saja.
Akar dari problem ini adalah karena guru terbebani oleh beban kurikulum yang padat. Meskipun, telah dikembangkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang berarti sekolah bisa menyusun model kurikulum sendiri. Faktanya banyak sekolah memilih copy-paste dari sekolah lain. Atau mencari gampangnya, dengan mencerna buku soal sebanyak-banyaknya. Tentu saja, karena tak ingin ketinggalan dengan sekolah lain. Terutama mengejar prestise dari persentase kelulusan UAN. Yang ada malah guru-guru mengeluh, karena nambahin kerjaan, sebab harus banyak menulis rencana belajar beserta laporan hasilnya, hingga permingguan.

Sebuah niat baik yang kemudian bergeser menjadi perangkap administratif. Walaupun ruh kurikulum telah dibuat selentur mungkin menghadapi perubahan dinamika dan realitas sosial, akan tetapi kultur kerja homogenitas dan kenyamanan dalam rutinitas selama bertahun-tahun, membuat tak banyak guru yang mampu mengubah paradigma dalam waktu cepat, dan mempersembahkan cara belajar terbaik bagi muridnya.
Alhasil, lagi-lagi murid selalu diposisikan sebagai obyek belajar, sosok yang tak banyak tahu dan harus diberi tahu, atau pendengar yang setia. Sementara guru adalah sosok sempurna yang serba tahu, termasuk mengklaim paling tahu kebutuhan muridnya. Bahkan lebih fatal, menjadi algojo atau minimal pemberi label, terhadap baik-buruk kondisi dan masa depan murid. Hal yang sebenarnya terbukti di sepanjang sejarah peradaban manusia lebih banyak kelirunya daripada benarnya. Apa yang menimpa Thomas Alfa Edison, adalah satu contoh saja. Ketika ia diberi label nakal lagi bodoh, dan dikeluarkan oleh sekolahnya, namun lalu dunia mengenangnya sebagai orang jenius lagi kreatif, penemu ratusan barang-barang berguna terutama lampu sebagai karya masterpiece-nya.

Tantangan bagi para guru dan aktivis pendidikan selanjutnya, adalah seperti yang diutarakan oleh Prof Utomo Dananjaya. Tokoh pendidikan alternatif yang menulis buku Sekolah Gratis (Paramadina, 2005) itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang keliru di sekolah. Terutama ketika sekolah tak bisa mengikuti perkembangan dan dinamisasi di lingkungan sekitar atau dalam kacamata makro, dunia yang berubah. Belajar yang itu-itu saja dari tahun ke tahun dengan contoh yang sama dan cara yang sama pula, adalah fakta tak terbantahkan bahwa belajar di sekolah adalah belajar yang semu. Tidak sama, belajar di sekolah dengan belajar di kehidupan.

Bersekolah, juga bukanlah supaya bisa bekerja atau mencetak para pekerja. Sebab, bekerja hanyalah alat dan bukan tujuan akhir. Tujuan akhir sekolah adalah melahirkan profil manusia utuh, yaitu menjadi seorang pembelajar sejati sepanjang hayatnya. Karakter pembelajar sejati inilah karunia istimewa dari Allah, yang bahkan malaikat pun cemburu karenanya. 

(First Posting : 13 Oktober 2008)

0 komentar:

Posting Komentar